The Half Blood Vampire 21
oleh d'Bezt JD Author pada 21 Januari 2012 pukul 12:55 ·
Setelah
mata kuliah pertama berakhir, Nicole keluar dari kelas bersama Miley.
Sedangkan Justin, sepertinya ada urusan dengan dosen yang tadi mengajar.
Mereka
punya waktu luang 15 menit sebelum masuk ke mata kuliah berikutnya.
Jadi, ia dan Miley memutuskan untuk pergi ke cafetaria kampus.
“kemarin, kau pulang dengan suamimu kan?” tanya Miley.
“suami apa? Justin?” tanya Nicole tak mengerti.
“iya, Justin suamimu, dan suamimu Justin. Jadi kemarin kau pulang dengannya kan?”
“oh, iya. Tentu saja dengannya.” ucap Nicole.
Miley berdeham. “sebelumnya aku minta maaf.”
“ng?”
“walaupun Justin itu berbicara dengan lembut, tapi aku merasa dia itu tetap aneh, misterius, dingin.”
“itu
hanya perasaanmu saja.” ujar Nicole. “dia itu sebenarnya baik,
romantis, pengertian, perhatian, dia benar-benar suami impian.” Nicole
merasa dirinya menjadi pembohong besar.
“begitu?” Miley mengangkat sebelah alisnya.
Nicole
mengangguk pasti. “seringlah datang kerumahku dan Justin, kau akan
melihat betapa berbedanya dia dengan apa yang kau pikirkan.”
“sepertinya tak perlu.” Miley mengibaskan tangan. “bagaimana dengan keluarga Justin?”
“baik. Mereka cepat membaur, menyenanhkan.”
“sepertinya, kau sangat bahagia menikah dengan Justin.”
Nicole tersenyum lemah.
“bahagia apa?! Setiap hari aku dibentak, ditatap dengan mata tajamnya itu!” keluh Nicole dalam hati.
---
Nicole
membolak balik halaman majalah tanpa tujuan. Ia sangat bosan dirumah.
Dirumah hanya ada dia dan Justin. Sedangkan yang lain, masih sibuk
dengan aktivitas masing-masing.
Ia beralih pada televisi.
Namun, tak ada acara yang menarik. Ia kembali mematikan televisi, lalu
berjalan keatas, menuju kamar. Ia ingin mengajak Justin keluar. Mall,
taman, atau tempat lain asal tidak dirumah.
Justin sedang tidur. Nicole mendesah kesal. Dengan hati-hati, ia membangunkan Justin.
“Justin. Bangunlah. Ini sudah jam 2 siang. Kau sudah tidur dua jam.” ujar Nicole.
Justin mengerang pelan. Namun, tak ada tanda-tanda dia akan bangun.
“Justin. Ayo bangun. Aku bosan.”
“aku ingin tidur!” bentak Justin.
“saat tidurpun masih saja membentak.” gerutu Nicole dalam hati.
“memangnya kenapa kalau ak membentak?” Justin sudah membuka matanya.
“bukan apa-apa.”
Justin mendengus, lalu kembali memejamkan matanya.
“Justin?” panggil Nicole lagi.
“apa!?” erang Justin.
“aku ingin ke Mall.”
“ya sudah.” ujar Justin enteng.
“temani aku.” rengek Nicole.
“pergi dengan temanmu saja. Aku mengantuk.”
“temanku tidak bisa. Makanya aku mengajakmu. Mau ya?”
“aku bilang tidak!” bentak Justin kuat.
Nicole
tersentak. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia akui, mentalnya memang lemah,
dibentak seperti tadi sudah membuatnya ingin menangis.
Justin membuka matanya karena heran Nicole tak bersuara lagi. Keningnya berkerut saat melihat Nicole menunduk.
“Nicole?” panggil Justin.
Justin terkejut melihat mata Nicole yang berkaca-kaca. Terlihat jelas, sedang menahan tangis.
“kau....”
“aku akan pergi dengan Greyson, maaf mengganggumu. Kau bisa tidur kembali.”
Justin
ingin berbicara, namun Nicole sudah berbalik dengan ponsel di
telinganya. Ia langsung digerogoti rasa bersalah. Ia sudah mendengar
tentang Nicole dari Greyson. Wanita itu masih seperti anak kecil, manja.
Polos. Jadi, dia diminta Greyson agar lebih sabar menghadapi tingkah
kanak-kanaknya. Namun, ia paling tidak bisa.
Justin
mengangkat kepalanya saat pintu kamar kembali terbuka. Nicole kembali
masuk dengan wajah yang sangat ceria. Kontras sekali saat ia akan keluar
kamar.
“aku akan ke kantor Grey.” ucapnya senang, lalu mulai mencari baju yang akan digunakannya.
“bye.” ucap Nicole sambil menutup pintu kamar.
Justin menghembuskan nafas lega, lalu kembali tidur. “persis anak kecil. Seperti Jazzy.”
Nicole
terkejut saat membuka pintu depan. Ada orang yang juga akan mengetuk
pintu itu. Orang itu terlihat aneh. Wajahnya terlihat pucat.
“mencari siapa?” tanya Nicole sopan.
Laki-laki itu menghembuskan nafasnya perlahan. “kau manusia?”
Kening Nicole bertaut. “tentu saja.”
Laki-laki itu mengendus. “segar.”
“kau mencari siapa?” tanya Nicole mulai curiga.
Laki-laki itu menatap Nicole.
“matamu?” seru Nicole kaget, karena mata laki-laki itu berwarna merah.
Laki-laki
tersenyum sinis. “kebetulan sekali. Aku sedang ingin minum darah.
Justin memang sahabat yang baik. Dia memberiku santapan selezat ini.”
Nicole langsung berusaha menutup pintu. Namun, kekuatan laki-laki itu lebih kuat.
“jangan mendekat!” ancam Nicole sambil menunjuk wajah laki-laki itu.
Laki-laki
itu bergerak maju, lalu memutar tangan Nicole kepunggung. Nicole
bersandar pada tubuh laki-laki itu. Laki-laki itu mengarahkan wajahnya
pada leher Nicole. Nicole merasa nafas laki-laki itu memburu, membuat
keringat dinginnya keluar. Ia berusaha berontak, namun tak bisa.
Tenggorokannya tercekat air mata yang tertahan.
“menangislah jika sakit.” bisik laki-laki itu.
Air mata Nicole pun mengalir dengan deras, saat merasa ada dua benda tajam menempel dilehernya.
“justiiiin!!” jeritnya dalam hati.
The Half Blood Vampire 22oleh d'Bezt JD Author pada 21 Januari 2012 pukul 18:27 ·
Justin
membuka matanya. Ia mendengar jeritan Nicole, namun bukan jeritan
seperti suara. Melainkan jeritan batin wanita itu. Nicole masih dirumah.
Tak
sampai lima detik, Justin sudah tiba dibawah. Ia mendapati seseorang
sedang membelakanginya. Orang itu tengah membisikkan sesuatu pada orang
yang didepannya. Hanya isak tangis yang tertahan yang terdengar ruangan
itu.
“astaga! Kenapa wanita ini sudah pingsan? Aku bahkan belum menggigitnya.” gerutu orang itu.
Justin
langsung mengenali orang itu. Laki-laki itu adalah Ryan. Sahabatnya.
Ryan adalah vampire berdarah campuran sepertinya. Meskipun siang hari
menjadi manusia, tetap saja Ryan tak bisa menahan nafsu vampirenya.
“Ryan! Hentikan!” bentak Justin saat melihat Ryan akan menggigit leher Nicole.
Ryan menoleh lalu tersenyum. “hai Justin! Kenapa kau sembunyikan makanan lezat ini dariku, hm?”
“lepaskan wanita itu?!” desis Justin tajam.
“kenapa? Kau ingin menikmati darah manusia ini sendirian, begitu?”
Justin langsung menarik Nicole dari Ryan. Ia memegang pinggang erat Nicole agar tubuh wanita itu tidak jatuh.
“ayolah
Justin. Aku baru pulang dari Rusia, apa kau tak memberikan penyambutan
untukku? Anggap saja wanita itu sebagai penyambutan untukku, bagaimana?”
Ryan berusaha menyentuh Nicole.
“jangan sentuh dia!” Justin memukul tangan Ryan yang terulur.
“jadi kau tak mau berbagi?”
“tentu saja tidak! Dia ini istriku. Dan aku tak akan membiarkan orang lain menyentuhnya!” ucap Justin lantang.
Mata Ryan membulat. “istrimu manusia? Huh! Jangan bercanda Just. Ini tidak lucu.” desis Ryan.
“kalau dia bukan istriku, dia tak mungkin berada dirumah ini.” Justin menegaskan.
“lalu bagaimana dengan Caitlin, adik Christ? Bukannya kau menyukainya?”
“tapi dia lebih memilih bersama Chaz bukan?” Justin bertanya balik.
“lalu, apa Caitlin tahu kau sudah menikah?”
“aku tidak tahu, dan tidak mau tahu.”
---
Justin
membaringkan Nicole perlahan di tempat tidur. Ia mengambil sapu tangan
dilemari, membasahinya sedikit, lalu mengusapkannya pada wajah Nicole.
Membersihkan sisa-sisa air mata wanita itu.
Justin terus
menatap Nicole yang tengah terbaring di hadapannya. Terlambat satu detik
saja, Nicole pasti sudah tidak akan dirumah ini lagi. Dia pasti akan
menjadi vampire lalu hidup bersama Ryan.
Justin tak bisa
membayangkan apa yang akan diterimanya dari keluarga Chance ataupun
keluarganya sendiri. Terlihat jelas kalau keluarganya sangat menyayangi
Nicole.
Dering ponsel Nicole membuyarkan lamunannya.
Dengan hati-hati, Justin mengeluarkan ponsel itu dari saku jins yang
dipakai Nicole. Nama Greyson terpampang di layar.
“hai sweety. Aku sudah berada didepan rumah.” seru Greyson langsung.
“Grey, ini aku. Justin.”
“Justin?” terlihat jelas kebingungan dari suara Greyson.
“masuklah. Pintu tak dikunci.”
Tak
lama kemudian, Greyson tiba dikamarnya dan Nicole. Greyson terkejut
saat melihat Nicole terbaring di atas tempat tidur dengan wajah sedikit
pucat.
“ada apa dengan adikku?”
Justin pun menceritakan kejadian tadi pada Greyson. Tentang Ryan yang akan menggigit Nicole.
Greyson
mendesah. “sekarang aku tidak bisa membantunya. Karena dia sudah
bersuami. Yaitu kau. Aku tau, kau tidak menyukai Nicole apalagi
mencintainya. Tapi aku mohon. Tolong jaga dia baik-baik. Kalau kau tak
bisa menjaganya, Dengan terpaksa, aku akan membawanya pulang lalu
membuat surat perceraian untuk kalian.”
Justin mengangguk mendengar ucapan Greyson.
“kalau kau benar-benar tak kuat menghadapi tingkah Nicole, katakan padaku. Aku akan membantu untuk mengurus perceraian kalian.”
“sepertinya kau sangat berharap agar aku dan Nicole bercerai.”
“entahlah.
Aku hanya ingin adikku itu dapat menikmati hidupnya. Aku ingin,
hidupnya selalu bahagia. Seperti dia yang selalu membuat hidupku
bahagia.”
“kau tidak terbebani dengan sikap kanak-kanaknya itu?”
“itulah
yang membuatku ingin cepat pulang dari kantor. Percayalah, jika kau
sudah dekat dengan Nicole, kau akan merindukan saat-saat manjanya itu,
jika dia sedang jauh darimu.” ujar Greyson.
Justin mengangkat bahu.
“aku pulang dulu.”
Setelah
memasakkan bubur untuk Nicole, Justin kembali kekamar. Ia mendapati
Nicole tengah duduk diatas tempat tidur dengan wajah bingung.
“kenapa aku disini?” tanya Nicole bingung.
“kau tadi pingsan.” sahut Justin datar.
“pingsan? Astaga... Tadi aku...” Nicole memegang lehernya. Mulus tanpa ada bekas gigitan.
“kau kenapa?” Justin pura-pura tak tau.
“aku pingsan dibawah?”
“tidak, didepan pintu kamar mandi.” ujar Justin bohong.
“kau tidak bohong?”
“apa untungnya bagiku jika aku bohong!?” ketus Justin tajam.
Nicole tak bertanya lagi.
“mungkin itu mimpi.” pikir Nicole.
“itu memang mimpi.” ujar Justin.
“jangan membaca pikiranku!”
Justin menatap Nicole tajam. “apa hak mu melarangku?! Kalau kau tak ingin pikiranmu terbaca, jangan berpikir!” cetus Justin.
Nicole langsung cemberut, namun tak membantah.
“habiskan
bubur ini! Awas saja kalau sampai tidak habis!” Justin menyerahkan
nampan berisi bubur serta cokelat panas pada Nicole.
The Half Blood Vampire 23oleh d'Bezt JD Author pada 22 Januari 2012 pukul 19:58 ·
Nicole
berjalan menaiki tangga untuk menuju perpustakan bersama Miley. Mereka
membicarakan tentang mode-mode terbaru. Mulai dari pakaian, sepatu,
hingga rambut.
Saat jam kosong, Nicole memang
lebih sering bersama Miley dari pada Justin. Sedangkan Justin akan
bersama Cody, jika Cody sedang tidak ada mata kuliah.
Saat akan masuk ke perpustakaan, Nicole tak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Justin.
Justin menatap Nicole kesal. Ia hampir membentak wanita itu jika tidak segera sadar kalau disebelah wanita itu ada Miley.
“hai shawty.” Justin tersenyum manis.
Nicole menatap Justin sedikit jijik.
“hentikan aktingmu!” batin Nicole.
Justin bersikap cuek. “hai Miley.”
Miley tersenyum. “hai.”
“ayo kita pulang.” ujar Justin kembali menatap Nicole. “semua mata kuliah kita sudah berakhir.” sambungnya.
Nicole
tidak langsung menjawab. Ia tak mungkin mengiyakan perkataan Justin.
Jika ia mengikuti Justin pulang, maka tak akan yang bisa pergi keluar
lagi, dan dia akan mati kebosanan karena tidak ada yang bisa dilakukan.
“tapi, aku akan kesalon dengan Miley.”
Miley menatap Nicole bingung. “ke salon apa?”
Justin tersenyum penuh kemenangan. “ayo.”
Justin langsung menarik pergelangan tangan Nicole. Nicole terpaksa melambaikan tangannya pada Miley.
Justin
terus menggenggam pergelangan tangan Nicole selama perjalanan menuju
mobil. Ia sengaja melakukan itu, agar Nicole tidak kabur. Walaupun
sebenarnya menangkap Nicole hal mudah, tapi ia tak mungkin menunjukan
tanda-tanda kalau dia punya kekuatan.
15 menit
kemudian mereka tiba dirumah. Tidak seperti biasanya, rumah tidak sepi.
Dihalaman, ada mobil Skandar dan Weronika. Berarti mereka sudah pulang
kuliah.
Justin menekan bel, tak lama pintu terbuka. Dibukakan oleh Jazzy.
“Justin!” Jazzy langsung menghambur kepelukan Justin.
“kau sudah pulang? Tidak ke tempat Mom?” tanya Justin sambil berjalan masuk.
Jazzy menggeleng.
“Jazzy! Kau harus makan!” terdengar teriakan Wero dari ruang makan.
“nah, kau harus makan. Aku kekamar dulu.” Justin menurunkan Jazzy didepan tangga.
“oke. Kau dan Nicole mau membuat adik untukku ya?” tanya Jazzy dengan wajah lugunya.
Wajah
Nicole langsung memerah. Ia segera memalingkan wajahnya dari Justin.
Tak lama kemudian terdengar tawa dari lantai atas. Skandar.
“shut up, Skand!” teriak Justin. “kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Justin.
“wero yang mengatakannya padaku.” ujar Jazzy.
Justin mendesah. “pergilah makan.” ujarnya pelan. “Wero,tunggu pembalasanku nanti malam!” teriak Justin setelah jazzy pergi.
Justin pun berjalan menaiki tangga, diikuti oleh Nicole dibelakang.
“setelah
pulang kuliah, kau tidak boleh pergi dengan teman-temanmu. Setelah kau
puas bermain dengan temanmu, kau menelfonku untuk minta jemput.
Memangnya aku supir?” tanya Justin sambil menaiki tangga.“Aku ingin
tidur, jadi kau harus pulang bersamaku.”
Nicole mendesah. “tapi aku bosan dirumah.”
“kau bisa mengerjakan tugas kuliah kalau bosan.” Justin membuka pintu kamar.
“itu membosankan, kau tahu?”
“kau
bisa browsing internet, membaca buku, memasak, membersihkan rumah, dan
masih banyak yang bisa kau kerjakan.” ujar Justin panjang lebar.
“memangnya aku pembantu? Disuruh membersihkan rumah?” protes Nicole.
Justin melangkah menuju kamar mandi tanpa menjawab bantahan Nicole. Tak lama kemudian, dia keluar dengan wajah yang lebih segar.
“jadi, kau mau melakukan sesuatu agar tidak bosan, begitu?”
Nicole yang sedang membersihkan wajahnya didepan meja rias, menatap Justin melalui cermin. “yeah.”
Justin membalas tatapan Nicole. “kita membuat keponakan saja untuk Jazzy, bagaimana?”
Wajah
Nicole merah padam. Ia menatap Justin dengan perasaan campur aduk,
namun tak ada kata yang terucap. “gila!” desis Nicole akhirnya.
Ia
melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian. Tawa
Justin meledak setelah pintu kamar mandi itu di tutup. Tak hanya tawa
Justin, tapi juga Skandar.
“hei, jangan menguping!” teriak Justin.
Skandar semakin tertawa.
“menguping apa?” teriak Nicole dari dalam kamar mandi.
Justin menghela nafas panjang, lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
The Half Blood Vampire 24
oleh d'Bezt JD Author pada 25 Januari 2012 pukul 19:45 ·
Nicole
menutup buku kuliahnya dengan kesal. Besok akan diadakan test, tapi tak
ada satu pun materi yang tersimpan di otaknya meskipun ia sudah
berkutat dengan buku panduan selama satu jam!
Nicole
berjalan menuju tempat tidur, lalu menghempaskan dirinya membuat tempat
tidur itu sedikit berguncang. Keluar erangan dari mulut Justin. Saat
itu, Justin tengah tidur.
Dua hal yang telah
Nicole ketahui tentang kebiasaan Justin. Pertama, Justin selalu keluar
rumah saat jam 6 sore dan baru pulang jam 6 pagi. Yang kedua, Justin
selalu pulang setelah pulang dari kampus hingga sore. Tak salah Wero
mengejeknya “situkang tidur”.
“Nic, kau membuat tempat tidur ini berguncang!” bentak Justin tanpa membuka matanya.
Nicole menghela nafas panjang. Sebuah ide muncul dibenaknya. Membuat tempat tidur berguncang.
“kalau kau melakukan apa yang kau pikirkan, aku akan pastikan besok kau tidak akan ikut test.” ujar Justin.
Nicole mendesah putus asa. “kenapa kau membaca pikiranku, hm?”
Tak ada jawaban dari Justin.
“Justin bodoh!”
“kau yang bodoh!” umpat Justin balik.
“Justin jelek!”
Justin memiringkan tubuhnya, lalu menutup kupingnya dengan bantal.
“Justin kasar!”
Nicole terus melontarkan kata-kata jelek untuk Justin. Ia sengaja mengganggu Justin, supaya dia tidak bosan.
“Justin tukang tidur!” umpat Nicole.
Tak ada jawaban dari Justin lagi. Laki-laki itu benar-benar tertidur.
Nicole
mendengus kesal, lalu beranjak dari tempat tidur. Ia keluar dari kamar,
membanting pintunya dengar keras. Seutas senyum tersungging dibibir
Justin.
Saat sedang menuruni tangga, terdengar bel
rumah berbunyi. Dengan langkah cepat, Nicole berjalan menuju pintu
depan. Mungkin saja sikembar Jazzy dan Jaxon yang pulang. Jadi mereka
bisa bermain bersama.
Wajah Nicole langsung
meredup saat ia membuka pintu. Bukan Jazzy ataupun jaxon yang ada
dibalik pintu itu. Melainkan, dua orang yang tidak dikenalnya.
“cc..cari siapa?” tanya Nicole takut.
“segar.” gumam laki-laki bermata hijau.
“God! Jangan katakan kalau mereka vampire!” batin Nicole.
“tapi kami memamg Vampire.” ucap laki-laki yang lain.
Nicole merasa jantungnya berhenti berdetak. Kenapa dimana-mana ada vampire?
“hai David,Daniel!” ucap seseorang dibelakang Nicole.
Nicole menoleh. Skandar. Tanpa sadar, Nicole menghembuskan nafas lega.
Dia
baru ingat, dirumah juga ada Skandar. Sama seperti Justin, begitu
pulang kuliah dia langsung tidur. Namun Skandar hanya tidur sejam atau
dua jam.
“kau masuklah. Mereka temanku.” ujar Skandar pada Nicole.
Nicole
mengangguk lalu berjalan menuju ruang tengah. Ia pun menghidupkan
televisi. Saat tengah menonton, tiba-tiba teman Skandar tadi duduk
dihadapannya.
“kenalkan, aku David. Davin Henrie.” laki-laki yang bermata hijau itu mengulurkan tangannya.
Nicole menyalami laki-laki itu takut-takut. “Nicole Athena Chance.”
“Bieber.” ralat Skandar, lalu duduk di samping Nicole. “dia Nicole Athena Bieber.” ujar Skandar.
“adikmu juga?” tanya laki-laki yang bernama Daniel.
“oh bukan. Dia istri adikku.” Skandar tersenyum tipis.
“wah, aku terlambat.” desah David.
Nicole tertawa pelan menanggapi ucapan David.
“kau manusia?” tanya Daniel. “darahmu....”
“iya.” ujar Nicole.
“maksudnya dulu. Justin telah mengubahnya seperti kita.” sambar Skandar.
Daniel dan David menatap Skandar tak percaya. “tapi....”
“Nic, bantu aku buatkan minuman.” potong Skandar.
Nicole menatap Skandar bingung. “apa?”
Skandar langsung menarik tangan Nicole menuju dapur, tanpa mendapat persetujuan dari wanita itu.
“kau pergilah kekamar. Jangan berdekatan dengan mereka.”
“kenapa?”
“mereka sama sepertiku. Tapi, Mereka tak bisa mengendalikan nafsu mereka meski mereka tengah menjadi manusia.”
Nicole kembali masuk ke kamar, lalu menghempaskan dirinya disamping Justin yang tengah tidur tengkurap.
Baru saja dia mendapat hiburan karena menonton televisi, teman-teman Skandar yang ternyata vampire malah datang.
“Justin.” Nicole mengguncang tubuh Justin.
“hmm...” ucap Justin malas-malasan.
“temani aku ke Mall. Aku bosan.” rengek Nicole.
“lebih baik kau belajar, besok kita test.” tolak Justin.
“sebentar saja. Mau ya?” ajak Nicole.
“sudah jam 4, Nicole Athena Bieber.” ujar Justin setelah melihat jam.
Nicole mengerutkan bibirnya. “huh! Sudah ku duga! Pasti kau tidak mau!”
“kalau kau sudah menuduga, kenapa masih bertanya?” tanya Justin.
Nicole mengangkat bahu. “mungkin saja dugaanku salah.”
Justin
menjentikan jarinya, lalu merubah posisinya menjadi duduk seperti
Nicole. “begini saja. Aku tau caranya supaya kau tidak bosan, dan tidak
perlu ke Mall.”
“bagaimana?” tanya Nicole penasaran.
Justin tersenyum nakal. Ia mendekatkan tubuhnya pada Nicole.
Nicole menatap Justin bingung. “jangan buat aku penasaran!” desis Nicole.
Justin tertawa. “kita membuat bieber junior?”
Nicole menatap Justin tajam. “tidak!” sergahnya cepat, lalu bangkit dari tempat tidur.
Justin menarik tangan Nicole cepat sehingga Nicole tepat didepannya. Justin pun merebahkan tubuh Nicole, menindihnya.
'ceklek'
Thd Half Blood Vampire 25
oleh d'Bezt JD Author pada 25 Januari 2012 pukul 21:24 ·
Justin dan Nicole segera menoleh kearah pintu. Terlihatlah wajah bersalah dan salah tingkah Wero.
“maaf.” ucap wero. “lanjutkan saja, aku tak akan mengganggu lagi.” dengan tersenyum canggung, Wero kembali menutup pintu kamar.
Nicole menatap Justin jengkel. Dengan kesal di dorongnya tubuh Justin yang menindihnya.
“kau.....” Nicole menghentikan ucapannya karena otaknya tiba-tiba kosong. “aargh! Jangan lakukan itu lagi!” erangnya.
Justin terkekeh. “coba saja Wero tidak datang, aku yakin kita sudah.......”
“cukup!” potong Nicole sambil menutup kupingnya.
Justin
semakin tertawa melihat reaksi Nicole. “mungkin lain kali saja, karena
kedatangan Wero aku jadi kehilangan minat untuk.....”
“aku bilang cukup!” bentak Nicole.
Tawa Justin semakin besar. Entah kenapa, ia suka sekali menggoda Nicole.
“kau tahu, aku lebih suka melihat wajah dinginmu dari pada tertawa seperti sekarang!” cetus Nicole.
Justin berdeham, lalu menatap Nicole tajam. “begini?” tanya Justin dingin.
Nicole langsung gugup melihat perubahan wajah Justin yang begitu cepat. “bb..bukan begitu juga.”
“lalu bagaimana?” Justin mendekatkan wajahnya pada wajah Nicole.
Matanya
-Nicole- tepat jatuh pada manik mata hazel Justin yang begitu tajam.
“Justin, kita terlalu dekat.” desis Nicole dengan suara tercekat.
“lalu, kau takut?”
Nicole tak bisa berkata-kata karena wajah Justin semakin dekat dengan wajahnya. Mata Justin mulai terpejam.
Detik
berikutnya, Nicole merasa sesuatu yang lembab menempel dibibir
mungilnya. Ia hanya diam tak membalas ciuman itu. Justin memperdalam
ciumannya berharap Nicole membalasnya. Bukannya mendapat balasan dari
Nicole, pintu kamar mereka malah kembali terbuka.
“oh My God!” seru Cody.
Justin mengakhiri ciumannya, lalu beralih pada pintu kamar yang dibuka tanpa diketuk.
“ada apa?” tanya Justin ketus.
Cody terkekeh. “hm... Tidak jadi, lanjutkan saja.” Cody kembali menutup pintu kamar.
Saat ia kembali menatap Nicole, wajahnya malah di pukul dengan bantal.
“itu balasan untukmu, karena menciumku!” ketus Nicole.
Terdengar tawa dari kamar sebelahnya. Skandar.
“jangan menguping Skand!” teriak Justin.
“dan kau, jangan berteriak didekatku!” ujar Nicole kesal.
“kau mau kemana?” tanya Justin saat melihat Nicole turun dari tempat tidur.
“mencuci bibirku sampai bersih!” ketus Nicole sebelum masuk ke kamar mandi.
Justin mendengus mendengar jawaban Nicole.
Kembali terdengar dari kamar sebelahnya. Kali ini, tawa itu benar-benar terdengar puas.
“teruslah tertawa!” teriak Justin jengkel.
Hanya satu dibenaknya saat ini, kenapa Nicole tak membalas ciumannya?
Nicole membasuh wajahnya berkali-kali. Hal itu membuat hatinya sedikit lebih tenang.
Ia
menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menatap
bayangannya dicermin di hadapannya. Matanya sedikit memerah karena baru
saja menangis.
Saat Justin menciumnya, entah
kenapa ia langsung teringat pada Zayn. Ia merasa bersalah jika ia
membalas ciuman itu, meskipun saat ini dia adalah istri Justin. Karena
itu, ia tak membalas ciuman Justin.
Setelah merasa
cukup tenang, Nicole keluar dari kamar mandi. Dengan menunduk, ia
berjalan menuju pintu. Ia tak ingin bertatapan dengan Justin.
“kau mau kemana?” tanya Justin sambil menggenggam lengan Nicole.
“kebawah.” ujarnya seadanya.
“kau marah?”
Nicole menggeleng. “aku tak punya alasan untuk marah padamu.” ujarnya pelan tanpa menatap Justin.
Justin berdecak. “ternyata, kau tak selalu bersikap seperti anak kecil. Saat sekarang, kau terlihat normal.”
Nicole menatap Justin kesal. “apa maksudmu?”
Justin terkejut melihat mata Nicole. “kau menangis?”
“tidak! Memangnya aku anak kecil!” jawab Nicole.
Justin mengangkat bahu.
Nicole mendengus pelan, lalu kembali menghadap pintu.
'dug!'
Kening Nicole dengan mulus mencium pintu begitu ia berbalik. Karena pada saat yang bersamaan ada yang membuka pintu dari luar.
“hmphmph...” Justin membekap mulutnya agar tawanya tidak lepas.
“ya ampun Nic! Aku tak sengaja.” seru Wero.
Nicole meringis sambil memegangi keningnya.
“Jazzy ingin bermain denganmu, jadi aku berniat memanggilmu. Aku tak tahu kalau kau dibelakang pintu.” aku Wero.
“sakit tidak?” tanya Justin khawatir.
“tentu saja!” ujar Nicole jengkel, karena pertanyaan justin.
“kemari!”
Justin menarik tengkuk Nicole, lalu mencium lembut kening Nicole yang berterbentur dengan pintu.
“tidak sakit lagi kan?” tanya Justin.
Nicole
menatap Justin dengan wajah merah. Perpaduan kesal dan malu. Kesal
karena dicium tanpa izin, malu karena dicium di hadapan Wero.
Wero tersenyum kecil melihat dua orang di hadapannya.
The Half Blood Vampire 26
oleh d'Bezt JD Author pada 27 Januari 2012 pukul 11:45 ·
Nicole
mendengarkan penjelasan yang keluar dari mulut Justin malas-malasan. Ia
sedang tak ingin belajar, tapi Justin tetap memaksanya. Belum lagi,
sebelum mengajar tadi, dia diomeli laki-laki itu karena mendapat nilai D
pada saat Test tempo hari. Jadi, dia harus memperbaiki nilai itu,
setidaknya D akan berubah menjadi B, atau paling kurang C.
“bagaimana, sudah mengerti?” tanya Justin.
Nicole menggeleng lemah. “aku sudah katakan, aku sedang tak ingin belajar!”
“heh! Kau pikir, kau akan bisa menjawab soal saat pengulangan test nanti, tanpa belajar?”
“memang tidak. Tapi, mungkin saja ada keajaiban.” elak Nicole.
Justin memukul puncak kepala Nicole. “keajaiban itu ada pada dirimu sendiri!”
“entahlah.” sahut Nicole lemah.
“lihatlah dirimu, sangat mudah putus asa! Mana ada laki-laki yang mau dengan wanita sepertimu!”
“heh! Jangan sembarangan!” Nicole menunjuk Justin kesal.
Justin mengibaskan tangan Nicole dari depan wajahnya. “jangan hanya bisa menggantungkan hidupmu pada keberuntungan!”
“memangnya
kau tidak menggantungkan hidupmu pada keberuntungan? Kalau tidak,
mengapa kau bisa mendapat nilai A pada saat test kemarin?”
Justin
menghela nafas panjang. Sekarang, Nicole sudah tak begitu takut lagi
padanya, karena ia tak bisa menunjukkan ekspresi dingin itu lagi. Sifat
Nicole yang hampir seperti Jazzy itulah yang membuatnya sedikit berubah.
“dengar.”
Justin menatap Nicole. “didunia ini ada dua orang pintar. Pertama,
pintar karena rajin belajar, dan yang kedua, pintar karena memang sudah
ditakdirkan untuk pintar.”
“lalu kau, masuk kategori orang yang kedua?” tanya Nicole remeh.
“kau yang mengatakannya. Bukan aku.” ujar Justin. “ku rasa, kau bisa menjadi orang pintar kalau kau rajin belajar.”
Nicole mendesah. “kau tahu, satu hal yang paling tidak aku suka didunia ini?”
Justin mengangkat bahu.
“belajar.” ujarnya dengan penuh tekanan.
“pantas saja jika kau bodoh!”
“terserah apa katamu!” sungut Nicole.
Justin menutup semua bukunya. “aku ingin tidur. Ini sudah jam 4 sore. Setidaknya, aku masih punya waktu 2 jam untuk tidur.”
Nicole menatap Justin bingung. “tidur? Lalu bagaimana dengan test ulangku nanti?”
Justin
mengangkat bahu tak peduli. “percuma mengajarkan orang yang tidak punya
niat belajar sama sekali.” Justin pun berjalan menuju tangga.
“Justin!” panggil Nicole.
Justin tetap melanjutkan langkahnya tanpa beban seolah panggilan Nicole itu tak terdengar.
Nicole mengacak rambutnya. “bagaimana ini?!”
---
Nicole membuka matanya perlahan begitu mendengar benturan pintu yang cukup kuat.
“baguslah
kalau kau sudah bangun! Aku tak perlu membangunkanmu lagi.” ujar Justin
sambil memakai kemejanya. “15 menit lagi, aku sudah melihatmu diruang
makan.....”
“terlambat 1 detik, kau tinggal.” ucap Nicole memotong ucapan Justin.
Kalimat
Justin yang itu memang sudah hafal diluar kepalanya. Bagaimana tidak?
Setiap pagi ketika ia baru bangun, kata-kata itu yang selalu didengarnya
dari mulut Justin. Bukan kata selamat pagi, sudah bangun? Atau yang
lainnya.
Dengan terburu-buru, Nicole menuruni
tangga. Jika ia turun dengan santai seperti biasa, dia akan ditinggalkan
oleh Justin. Semua ini karena ia lupa meletakkan salah satu buku
kuliahnya, membuatnya menghabiskan waktu yang cukup banyak untuk
menemukan buku itu.
Saat akan menginjak tangga
terakhir, kakinya tergelincir, membuatnya jatuh dan kakinya sakit.
Sepertinya ada engsel yang bergeser pada pergelangan kakinya.
“aawww!” ringis Nicole. Bukan hanya kakinya yang sakit, tapi juga bokongnya.
Justin datang dari ruang makan, lalu menatap Nicole dengan tatapan datarnya.
“ceroboh!” ujarnya. “sudahlah! Jangan menghabiskan waktu lagi, cepat berdiri.”
Nicole menggigit bibir bawahnya menahan sakit. “kakiku sakit, Justin.”
“nanti
juga sembuh. Jangan mendramatisir suasana. Aku tak akan menggendongmu
kemobil. Cepat bangun.” Justin menarik lengan Nicole agar perempuan itu
berdiri.
“aaawww” Nicole kembali meringis. “aku tidak bisa berjalan, Just.” rintihnya.
Justin melirik kaki Nicole yang terlihat membengkak. Pasti tulangnya bergeser. “kau gadis bodoh yang ceroboh!” bentak Justin.
Air
mata Nicole mengalir dari sudut matanya. Bukan karena bentakan Justin,
tapi karena kakinya semakin sakit, apalagi Justin masih mempertahankan
posisinya untuk berdiri.
“dan cengeng.” sambung Justin.
Rumah sudah sepi karena sudah jam 9. Semua orang pasti sudah pergi. Tunggu! Sepertinya ada orang dirumah selain mereka.
“Wero! Jangan cuma berpikir apa yang sedang terjadi pada Nicole! Keluar dari kamarmu!” teriak Justin.
Tak lama wero keluar dari kamarnya dan menghampiri Justin. “ada apa?”
“kau telfon dokter, tukang urut atau siapapun yang bisa mengobati kaki Nicole.” perintah Justin.
Wero mengangguk. Lalu pergi kemeja telfon. Sedang Justin memapah Nicole menuju ruang tengah, mendudukkannya di sofa.
“sudah! Jangan menangis lagi. Sebentar lagi dokter datang, dan sekarang aku harus ke kampus. Bye.”
“dasar tidak punya perasaan!” batin Nicole jengkel.
“whatever!” terdengar teriakan Justin.
The Half Blood Vampire 27
oleh d'Bezt JD Author pada 27 Januari 2012 pukul 13:23 ·
Justin bertos ria dengan Cody karena rencana mereka berjalan lancar. Terlihat sekali kebahagian diwajah kedua laki-laki itu.
“kau tahu, aku benar-benar grogi. Aku takut ketahuan.” ujar Cody.
Justin tersenyum. “tapi kau benar-benar mirip.”
Cody balas tersenyum. “baguslah. Ya sudah, aku masih ada kuliah. Bye.”
Setelah
Cody pergi, Justin pun melangkah menuju parkiran. Ia ingin segera
pulang, selain mengantuk, ia juga ingin melihat keadaan kaki Nicole.
Justin menekan bel rumahnya tenang. Tak lama kemudian, muncullah wajah Wero.
“kau sudah pulang? Ini masih jam satu.” ujar Wero bingung.
“hari ini hanya ada satu mata kuliah.”
“kalau satu mata kuliah, harusnya kau sudah pulang sejak sejam yang lalu.” omel Wero.
“kau ini seperti Mom saja.” sergah Justin. “menyingkirlah dari sana. Aku ingin masuk.”
Wero menggeser tubuhnya sehingga Justin bisa masuk.
“dimana dia?” tanya Justin sambil membuka kulkas.
“pergi dengan Grey.”
Alis Justin bertaut. “pergi?”
“iya. Greyson yang mengantarnya mengobati kakinya itu.”
“akukan sudah menyuruhmu menelfon dokter atau siapapun untuk mengobatinya?” ujar Justin.
“memang. Tapi ia tak mau. Ia malah memintaku untuk menelfon Grey.”
“lalu kau turuti?”
Wero mengangguk.
Tiba-tiba terdengar suara mobil didepan rumah. Tak lama kemudian disusul oleh bunyi bel.
“pasti Nicole.” ujar Wero sebelum berlari menuju ruang depan.
Nicole berjalan menggunakan tongkat. Kakinya yang terkilir dibalut dengan perban.
“bagaimana kakimu?” tanya Wero.
“sedikit lebih baik.” ujar Nicole, sambil tersenyum tipis.
Ia pun menuju ruang tengah dibantu Greyson. Sedangkan Wero menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk Greyson.
“luruskan kakimu.” Greyson membantu Nicole agar adiknya itu meluruskan kakinya diatas sofa. “bagus.” ucap Greyson puas.
“bagaimana kakimu?” tanya Justin yang tiba-tiba muncul.
Nicole menatap Justin sejenak, lalu memalingkan wajahnya kearah lain.
Justin tak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. “anak kecil.” desis Justin.
Nicole mengacuhkan ucapan Justin, lalu menatap Greyson. “kau akan disini sehariankan?”
Greyson menggeleng. “aku harus kekantor, sayang.”
Wajah Nicole langsung berubah masam. “lalu bagaimana denganku?”
“ada aku juga Justin.” ucap Wero sambil meletakkan minuman untuk Greyson dimeja.
“ah, benar. Ada kau.” ucap Nicole lega. Ia benar-benar tak menganggap Justin.
Justin mendesah pelan. “aku keatas dulu.”
“terserah!”
Justin
menghujam Nicole dengan tatapan tajamnya, membuat Nicole langsung
mengalihkan pandangannya dari Justin. Justin pun berjalan menuju tangga
untuk lantai dua. Tak lama kemudian, terdengar pintu kamar terbuka, lalu
kembali ditutup.
“aku pulang dulu.” pamit Greyson.
Nicole menatap Greyson tak percaya. “cepat sekali?”
“aku hanya diberi waktu keluar hingga jam makan siang selesai oleh Dad.”
Nicole mendesah. “ya sudah.”
“bye Sayang.” pamit Greyson sambil mencium puncak kepala Nicole.
Setelah Greyson pergi, Wero kembali menghampiri Nicole diruang tengah.
“kau belum makan siang, bukan?” tanya Wero.
“aku sudah sarapan bersama Greyson.”
“itu sarapan, bukan makan siang.” ujar Wero. “sekarang kau harus makan.” sambungnya tegas.
Nicole tak bisa membantah lagi. Ia membiarkan dirinya dipapah Wero menuju ruang makan. Ia pun duduk disalah satu bangku.
“sebentar, ku panggil Justin. Dia pasti belum makan siang.” ujar Wero.
Saat Nicole hendak melarang, Wero sudah bangkit dari duduknya.
Tak sampai 5 menit, Wero kembali duduk dibangkunya semula, kemudian disamping Wero, duduklah Justin.
“ayo dimakan. Ini semua masakanku.”
Nicole memperhatikan tiga jenis hidangan berbeda diatas meja makan. “kelihatannya enak.”
“tentu saja enak. Wero kan pintar memasak.” ujar Justin, dengan penekanan pada kata pintar.
Nicole mengalihkan pandangannya pada Justin.
“kenapa menatapku seperti itu?” tanya Justin tajam.
Nicole mengangkat bahunya lalu menggeleng. “tidak ada.”
“ingat,
kau tidak bisa berpikir macam-macam karena aku akan mengetahuinya.”
ujar Justin sambil menunjuk Nicole dengan garpu ditangannya.
“iya.” ujar Nicole singkat, lalu mulai menyantap makanannya. “ini enak, Wero.”
“terima kasih.” ujar Wero senang. “aku senang kau menikmatinya.”
Nicole tersenyum. “aku memang menikmatinya.”
“kau memang pintar memasak.” ujar Justin pada Wero.
“tentu saja.” ujar Wero.
Nicole
berusaha tenang menghadapi sindiran yang dilontarkan Justin. Karena,
dia tidak mungkin mengomeli atau memarahi Justin. Jika dia melakukannya,
satu detik saja, keadaan akan berbalik. Justin yang akan mengomelinya.
The Half Blood Vampire 28
oleh d'Bezt JD Author pada 27 Januari 2012 pukul 20:06 ·
Dengan
perasaan gugup stadium akhir, Nicole berjalan menuju ruangan Mr. Clark.
Dosen yang memberinya nilai D pada saat test tempo hari.
Seharusnya,
kemarin dia akan mengikuti test ulang untuk memperbaiki nilainya itu.
Namun, karena ada insiden di tangga itu, ia tidak jadi datang kekampus.
Sekarang saja dia masih berjalan menggunakan tongkat, dan kakinya pun
masih diperban.
Nicole POV
Dengan gemetar, aku mengetuk pintu ruangan Mr. Clark.
Aku
tahu, begitu aku masuk, aku akan langsung dihujam mata elangnya melalui
kaca mata bundarnya itu. Tapi aku tetap harus menemuinya, agar nilai ku
terselamatkan.
“masuk.” terdengar suara berat milik Mr. Clark.
Sebelum masuk, aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
“oh, Mrs. Bieber.” ucap Mr. Clark saat aku masuk kedalam ruangan itu.
Aku tersenyum canggung. “Mr. Clark.”
“aku baru akan memanggilmu, tapi kau sudah datang duluan.” ujarnya. “silahkan duduk.”
Masih
dengan gugup aku duduk dihadapan Mr. Clark. Wajahnya tetap saja seperti
itu. Jarang sekali melihatkan senyum. Membuat orang takut saja.
“ini, nilai test perbaikanmu. Ternyata kau benar-benar belajar.” Mr. Clark menyerahkan selembar kertas padaku.
Aku mengambil kertas itu dengan tatapan bingung.
Test
perbaikan? Bahkan aku tidak mengikuti test itu. Lalu kenapa ada kertas
test atas namaku? Semua ini membuat kepalaku berdenyut. Apa Mr. Clark
sedang sakit, dan salah membaca nama, tapi ini memang namaku! Dan
nilainya A.
Oh Tuhan? Apa ada yang salah dengan
susunan tata surya? Apa bumi berpindah orbit? Atau keluar dari susunan
galaksi Bimasakti? Oke, ini terlalu berlebihan!
“Seseorang tolong beri aku kejelasan!” jerit Nicole dalam hati.
“selamat Mrs. Bieber.” ujarnya. “lalu, apa yang ingin kau katakan?”
Aku bergumam. “tidak jadi. Permisi Mr. Clark.”
Nicole POV end
---
Nicole
berjalan keluar dari ruangan Mr. Clark, lalu menuju taman. Ia pun duduk
disalah satu bangku. Saat ini Justin sudah pulang karena dia bilang ada
urusan. Jika Nicole sudah ingin pulang, ia tinggal menghubungi Justin.
Nicole
masih bingung. Kenapa lembaran test perbaikan ini atas namanya? Siapa
yang melakukan ini? Tidak mungkin Miley karena Mr. Clark itu sangat
hafal wajah mahasiswanya. Jadi tidak mungkin Miley berpura-pura menjadi
dirinya, tentu saja hal itu tak akan berhasil. Lalu siapa? Mana ada
orang yang bisa menyamar sebagai dirinya tanpa ketahuan Mr. Clark? Tidak
akan ada yang bisa!
“Cody!” cetus Nicole sambil menjentikkan jarinya.
Ia pun mengirim pesan pada Cody, agar cody menemuinya ditaman kampus. Tak lama kemudian, Cody muncul.
“kenapa?” tanya Cody bingung. “oh ya, kau tak bersama Justin?”
Nicole mengabaikan pertanyaan Cody, ia langsung memeluk adik iparnya itu.
“kau kenapa?” tanya Cody bingung.
Nicole melepas pelukannya. “katakan yang sebenarnya padaku.” ujar Nicole sambil menunjukan lembaran testnya pada Cody.
“apa ini?” tanya Cody tak mengerti.
Nicole
mendesah. “kau tidak perlu berbohong, kemarin kau menyamar sebagai
diriku lalu menemui Mr. Clark kan? Aku sangat berterima kasih.”
Cody hanya tersenyum.
“kau
tahu, aku senang sekali! Kau sangat baik.” ujar Nicole. “tapi, kenapa
kau bisa menjawab semua soal test ini? Oh, ternyata kau juga pintar
seperti kakakmu ya.” decak Nicole kagum.
Cody bergumam. “sebenarnya begini.”
Nicole menatap Cody bingung. “maksudmu?”
“kemarin, aku memang mengubah diriku menjadi dirimu. Tapi, yang menjawab semua soal ini adalah justin.”
“bagaimana bisa?” tanya Nicole tak percaya.
Cody menatap kesekeliling, lalu kembali menatap Nicole. “satu lagi kelebihan Justin yang belum kau ketahui.”
“apa?”
“dia
bisa membuat dirinya tak terlihat. Sama sepertiku.” jawab Cody. “jadi,
saat aku menemui Mr. Clark, dia juga ikut. Dia menunjukan jawaban yang
benar lalu aku menulisnya. Jadi, ya begitu. Nilaimu sempurna.”
Nicole ternganga mendengar cerita Cody. “kenapa dia melakukan itu?”
Cody
menggaruk tengkuknya. “dia bilang, kau tidak akan bisa mendapatkan
nilai B, bahkan C sekalipun. Karena itulah dia membantumu. Apalagi
kemarin kau jatuh ditangga.”
Setelah Cody pergi,
Nicole langsung menghubungi Justin, agar laki-laki itu menjemputnya.
Nicole langsung masuk mobil begitu mobil Justin tiba dihadapannya.
“kau kenapa?” tanya Justin datar begitu mereka tiba dirumah. Namun belum keluar dari mobil.
Nicole tersenyum pada Justin.
Entah
setan apa yang merasukinya, Nicole mencondongkan tubuhnya kearah
Justin, lalu mencium bibir Justin lembut. Namun tak terlalu lama. Justin
menatap Nicole tak percaya. Tapi Nicole salah mengartikan tatapan itu.
“maafkan aku. Aku terlalu senang karena kau membantuku.” aku Nicole.
Justin tetap diam dan menatap Nicole seperti tadi.
“maafkan aku.” ujar Nicole lirih lalu keluar dari mobil.
Justin
tersadar saat pintu mobilnya ditutup. Perlahan ia memegang bibirnya.
Ciuman itu begitu singkat, namun juga begitu lembut. Benarkah wanita itu
menciumnya, atau hanya ilusi? Justin tersenyum dalam diam.
The Half Blood Vampire 29
oleh d'Bezt JD Author pada 28 Januari 2012 pukul 18:13 ·
Sarapan
pagi itu berlangsung bersama seluruh keluarga. Tanpa ada kecuali.
Karena kebetulan, Nicole, Justin, Skandar, Wero dan Cody ada kuliah pagi
jam 7.30.
Sesekali Nicole melirik Justin yang
duduk disampingnya. Ia sedikit gelisah karena semenjak insiden ciuman
kemarin siang, Justin belum bicara sedikit pun padanya. Bahkan
perintahnya seperti biasapun tak ada diucapkannya.
“Nicole, kau kenapa?” tanya Pattie.
Semua orang langsung melihat kearah Nicole, termasuk Justin.
“ah, ti..tidak apa-apa.” ujarnya sedikit gugup.
“kau terlihat aneh.” ujar Wero.
“kakiku hanya sedikit sakit lagi.” sahut Nicole bohong.
“benarkah?” tanya Jeremy. “ya sudah, kau tak perlu kuliah. Justin kau antarkan istrimu nanti kedokter, untuk memeriksa kakinya.”
Mata Nicole membulat. “tidak perlu Dad. Aku masih bisa kuliah, sungguh.” ujar Nicole.
“kau yakin?” tanya Skandar.
Nicole mengangguk untuk meyakinkan semuanya.
“kalau tidak kuat, tak perlu dipaksakan.” ujar Pattie. “benarkan, Justin?”
“kalau dia sudah yakin, biarkan saja. Tak perlu dilarang.” ujar Justin datar, sambil terus menyantap sarapannya.
Nicole menatap Justin jengkel. “tidak punya perasaan.” gumam Nicole pelan.
Skandar
terkikik mendengar gumaman Nicole. Semua orang diruangan itu hanya
menggelengkan kepalanya mendengar kikikan Skandar. Kecuali Jeremy.
Karena ia juga mendengar apa yang digumamkan menantunya.
“Nicole, ikut aku.” ujar Jeremy.
Nicole menatap Jeremy bingung. “kemana Dad?”
Jujur
saja, ia takut berdekatan dengan Jeremy, mengingat kalau Jeremy adalah
vampire asli. Bukan berdarah campuran seperti anak-anaknya.
“Dad akan mengobati kakimu, sayang.” ujar Pattie.
Nicole mengangguk ragu, lalu bangkit dari bangkunya.
“Justin, bantulah istrimu.” goda Skandar.
“dia bisa sendiri, Skandy.” ujar Justin acuh.
Nicole
melirik Justin dengan perasaan kesal akut! Akhirnya ia mendengus, lalu
mulai mengikuti Jeremy keruang tengah. Ia pun duduk diatas sofa.
“naikkan kakimu kemeja.”
Nicole menatap Jeremy tak percaya. “tak apa Dad?”
“lakukan saja.” ujar Jeremy.
Nicole menurut.
Jeremy pun membuka perban yang melilit dipergelangan kaki Nicole. Terlihat kalau pergelangan itu masih biru dan bengkak.
Jeremy mendengus. “anak itu.”
“kenapa Dad?” tanya Nicole bingung.
“Justin, suamimu itu bisa menyembuhkan kakimu ini. Tapi, kenapa dia tak menyembuhkannya.” gerutu Jeremy.
“Justin bisa?”
“ya,
kami para vampire asli bisa menyembuhkan luka kecil seperti ini.
Biasanya kemampuan kami, kami turunkan pada salah satu anak kami. Dan
aku ternyata menurunkan kemampuan ini pada Justin.” jelas Jeremy.
“dialah yang paling banyak mewarisi kemampuanku. Mulai dari membaca
pikiran, membuat dirinya menghilang, kecepatan yang sama denganku, juga
menyembuhkan luka ringan.” ceritanya.
“lalu bagaimana dengn yang lain?” tanya Valentia penasaran.
“Skandar,
dia bisa mendengar ucapan terkecil yang terlontar dari mulut seseorang
yang jaraknya cukup dekat dengannya, hanya itu. Sedangkan Cody, mengubah
dirinya menjadi orang lain dan membuat dirinya menghilang. Wero dan
Jazzy mempunyai kemampuan yang sama, mengubah diri mereka menjadi kabut,
sedangkan Jaxon, membuat dirinya tak terlihat. Tapi, karena masih dini,
Jazzy dan Jaxon belum bisa menggunakan kemampuan mereka.” jelas Jeremy
panjang lebar.
Nicole mengangguk mengerti. “oh begitu.”
“selesai.” seru Jeremy.
Nicole menata kakinya yang tadi terkilir.
Sembuh. Tak ada lagi bengkak ataupun biru dipergelangan kakinya itu. Benar-benar amazing!
“ku harap kau tak terkejut.” ujar Jeremy sambil tersenyum.
Nicole masih terjaga dengan ekspresi kagetnya. “wow.” desisnya.
Terdengar banyak langkah yang semakin mendekat. Semua yang diruang makan telah selesai dengan sarapannya.
“wow, kakimu sembuh ya Nic?” tanya Jaxon melihat kaki Nicole yang telah sembuh total.
Nicole tersenyum. “yeah. Dad yang menyembuhkannya.”
“wah, Dad hebat.” kagum Jazzy.
“Daddy ku memang hebat.” sahut Jaxon sambil memegang tangan Jeremy.
“itu Daddyku.” ujar Jazzy kesal.
“sudahlah.” lerai Pattie. “kita harus berangkat.”
Mereka
pun keluar dari rumah bersamaan. Masuk kemobil masing-masing. Nicole
dengan Justin. Skandar, Wero dengan mobil masing-masing, Cody dengan
motor sport kebanggaannya. Sedangkan Jazzy dan Jaxon dengan Pattie dan
Jeremy.
Nicole langsung keluar dari mobil begitu
mobil Justin telah berhenti. Ia tak ingin berlama-lama di dalam mobil
itu karena suasananya menyeramkan karena Justin tak mengaknya bicara.
Walaupun biasanya juga begitu, setidaknya wajahnya tidak sedingin saat
ini.
“hai Miley.” ia duduk disamping Miley.
Miley tersenyum. “hai, mana Justin?”
Baru
saja ditanyakan, Justin sudah masuk kelas dengan wajah dinginnya itu.
Justin pun duduk didepan kelas, disudut sebelah kanan. Kontras sekali
dengan Nicole yang duduk dibelakang, disudut sebelah kiri.
“kau dan dia ada masalah?” tanya Miley.
Nicole hanya mengangkat bahu.
“kenapa laki-laki itu sebenarnya?” pikir Nicole.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk keponselnya.
From : justin
bkn urusanmu!
The Half Blood Vampire 30
oleh d'Bezt JD Author pada 28 Januari 2012 pukul 19:36 ·
Saat dosen yang mengajar telah keluar, Nicole menahan Miley yang ingin bangkit dari duduknya. Miley menatap Nicole bingung.
“kita shoping yok?”
“maaf Nic, aku ada janji dengan temanku. Kenapa tidak dengan suamimu saja?” Miley melirik Justin yang telah keluar ruangan.
Nicole menggigit bibir bawahnya. “dia tidak bisa.”
Miley menatap Nicole tak percaya. “kau ada masalah dengannya?”
“sedikit. Ayolah, Miley. Aku tak ingin pulang bersamanya.” rengek Nicole.
“kenapa tidak coba kau selesaikan, dan malah kabur?” tuntut Miley.
“bagaimana ingin menyelesaikan masalah, kalau wajahnya dingin seperti itu.” gerutu Nicole pelan.
“apa?” tanya Miley.
“bukan apa-apa.”
sebuah pesan kembali masuk keponselnya.
From : Justin
aku beri kau waktu 10 menit untuk tiba parkiran. Terlambat 1 detik kau ku tinggal.
Mungkin
saat ini ia belum bisa menyelesaikan masalahnya dengan Justin, tapi ia
tak akan menambah masalah baru dengan datang terlambat.
“Miley, aku harus pulang. Justin sudah menungguku.” pamit Nicole lalu berlari keluar dari kelas.
Miley hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.
Nicole tiba diparkiran saat Justin akan masuk kedalam mobil. Nicole langsung masuk kemobil.
“hosh...hosh...” Nicole mengatur nafasnya yang tak beraturan karena berlari.
Justin
tersenyum melihat Nicole yang telah masuk ke mobil. Ternyata wanita itu
benar-benar mengikuti perintahnya. Ia pun ikut masuk dengan senyum yang
sudah hilang. Dan Tanpa bicara pada Nicole, ia langsung melajukan
mobilnya meninggalkan kampus.
Nicole menatap Justin takut-takut. “Justin?”
Justin hanya diam.
“Justin?” panggil Nicole lagi.
Justin tetap fokus pada jalanan didepannya.
“Justin!” Nicole menaikkan suaranya satu oktaf.
“aku dengar! Tak perlu berteriak seperti itu!” serang Justin balik.
Nicole langsung menelan ludah.
Terbuktikan? Awalnya dia memang membentak Justin, tapi satu detik saja keadaan langsung berubah.
“kenapa?” tanya Justin datar.
“aku ingin ke Mall. Ini kan masih siang. Kau Mau tidak?”
Tak ada jawaban dari Justin.
Nicole
menghela nafas panjang. Dia sudah tau jawabannya. Justin tidak mau.
Seharusnya ia tak perlu bertanya. Lebih baik pergi sendiri. Nicole
mengarahkan pandangannya pada jendela, lalu mulai memejamkan matanya.
“bangunlah.”
Nicole
membuka matanya perlahan saat mendengar suara Justin meski samar-samar.
Ia mendapati dirinya masih didalam mobil. Ia memandang kedepan. Ada
mobil. Ia mengedarkan pandangannya lebih luas. Ia merasa tengah berada
diparkiran suatu Mall. Atau hanya dugaan?
“kita memang di Mall.” jawab Justin. “kau ingin ke Mall kan?”
Nicole
memandang Justin takjub. Ia telah berburuk sangka pada Justin. Ternyata
Justin mengabulkan permintaannya. Nicole telah menggerakkan tangannya
untuk memeluk Justin, namun ia teringat reaksi Justin saat ia mencium
laki-laki itu. Akhirnya ia menurunkan tangannya kembali.
“terima kasih.” ucap Nicole akhirnya, sambil tersenyum manis.
Justin hanya mengangkat bahu.
Nicole dan Justin pun berjalan beriringan melewati berbagai toko-toko.
“Justin, aku ingin beli highells yang disana.” tunjuk Nicole.
“bukannya kau sudah punya banyak dirumah?” Justin mengingatkan.
“tapi itu warnanya ungu kesukaanku.” ujar Nicole.
“untuk apa beli sepatu banyak-banyak? Memangnya kau memakainya sekaligus!”
Nicole tak membantah lagi.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka berhenti ditoko baju yang juga menjual aksesoris.
Nicole
berjalan menghampiri sudut tempat syal. Ada syal ungu yang membuatnya
tertarik. Bahannya juga halus. Ia melirik Justin. Laki-laki itu tengah
menatapnya.
“kau mau beli?” tanya Justin.
“tidak.
Aku rasa, syal yang dirumah sudah cukup banyak. Lagi pula, musim gugur
ini belum terlalu dingin.” tolak Nicole lalu beralih ketempat aksesoris.
Ada sebuah kalung yang membuatnya tertarik. Tetap saja ia tak bisa
membeli, tak perlu ditanyakan lagi. Justin akan melarangnya membeli
kalung itu. Nicole kembali meletakkan kalung itu pada tempatnya.
Sudah
hampir dua jam dia di Mall. Tapi belum ada satu barangpun yang
dibelinya. Kalau dia pergi dengan Miley, bisa dipastikan. Saat ini dia
sudah memiliki 5 kantong belanjaan.
“Justin, aku ingin pulang.” pinta Nicole.
“kau tak makan dulu?” tawar Justin.
Nicole menggeleng.
“tak ada yang ingin kau beli?”
“tidak.”
Nicole
keluar dari mobil dengan lesu. Baru kali ini dia ke Mall, tapi tidak
membeli apapun. Justin kembali pergi karena ada urusan.
Nicole
menghempaskan dirinya ditempat tidur. Syal dan kalung tadi terus muncul
di pelupuk matanya. Nicole menutup matanya, berusaha untuk tidur. Kalau
dia tidak pergi bersama Justin, ia akan mendapatkan Syal dan kalung
itu.
“kau benar-benar laki-laki yang tak punya perasaan!” pekik Nicole kesal.