Senin, 21 Januari 2013

the half blood vampire 31-40


The Half Blood Vampire 31
oleh d'Bezt JD Author pada 28 Januari 2012 pukul 21:47 ·
Perlahan Nicole membuka matanya.


Gelap. Itulah yang ia lihat pertama kali. Setelah mengerjapkan mata berkali-kali, tetap saja ruangan itu gelap.


Nicole turun dari tempat tidur dengan hati-hati. Perlahan, ia berjalan menuju dimana kontak lampu berada. Ia pun menekan kontak itu. Tak lama kemudian, kamar itu langsung terang. Ia terpaksa menutup matanya beberapa saat untuk beradaptasi dengan cahaya lampu yang cukup terang.


Ia memandang kesekeliling kamar. Pandangannya terhenti pada tempat tidur. Di sisi lain tempat tidur, ada beberapa kotak yang disusun bertingkat. Mulai dari kotak ukuran besar, sedang, lalu kecil.


Nicole mengerinyitkan keningnya. Seingatnya, sebelum tidur kotak itu tak ada disana. Mungkin itu punya Justin.


Nicole melirik jam. Hampir jam 8 malam. Ia pun pergi mandi, lalu turun kebawah. Ia melihat Pattie sedang menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


“malam Mom.” sapa Nicole.
Pattie. “kau sudah bangun? Padahal ini belum siap.”
“tak apa Mom. Aku ingin membantu Mom. Apa yang harus ku lakukan?”
“hm.. Kau bawakan saja gelas itu ke meja makan ya, sayang.” ujar Pattie.


Setelah semua selesai, mereka duduk berhadapan. Namun Pattie tak makan. Ia hanya memperhatikan menantunya.


“Mom tidak makan?” tanya Nicole.
Pattie menggeleng. “tidak. Mom hanya ingin minum teh. Kalau aku makan, aku akan mengantuk. Padahal malam ini aku harus menyelesaikan rancangan baru.”
“Hanya karena itu Mom tidak makan? Kalau kau sakit bagaimana?”
Pattie terkekeh. “kau seperti Justin saja. Kau tahu, kata-katamu persis dengan yang diucapkan Justin.”
Nicole tersenyum malu. “kalau kau tidak makan, aku juga tidak.”
“hei, kenapa mengancam seperti itu?” tanya Pattie.
Nicole terkekeh. “aku hanya tak ingin Mom sakit. Kau sudah ku anggap seperti Mom kandungku.” ujar Nicole.
Pattie tersenyum. “baiklah. Aku akan makan.”


Selesai makan, Pattie masuk keruang kerjanya. Sedangkan Nicole kembali kekamar. Ia menghempaskan dirinya didepan meja belajar. Sebaiknya ia mencoba belajar. Orang menjadi pintar karena rajin belajar.


Satu jam berlalu, Nicole mulai jenuh dengan buku kuliah di hadapannya. Memang dia tidak mengerti semua materi, namun ada beberapa materi yang sudah dia kuasai.


Nicole pun mengetuk pintu kerja Pattie. Terdengar suara lembut Pattie yang menyuruhnya masuk.


“kenapa sayang?” tanya Pattie.
“aku bosan, Mom.” keluh Nicole, lalu duduk di sebuah sofa yang ada diruangan itu.
Pattie tersenyum. “ya sudah, temani aku disini. Kau bisa melihat foto-foto Justin yang ada dialbum foto berwarna ungu itu, kau juga boleh rebahan disofa itu.” ujar Pattie.


Nicole mengangguk. Ia pun mengambil album Foto yang berwarna ungu itu. Ia tersenyum kecil melihat foto-foto Justin ketika masih kecil. Kalau difoto, wajah dingin Justin tidak terlihat.


“bagaimana hadiah dari Justin, kau suka?” tanya Pattie.
Nicole menatap Pattie bingung. “hadiah apa?”
“hadiah. Ketika dia pulang, aku melihatnya membaw tiga buah kotak sekaligus. Dan dia bilang itu untukmu.”
Nicole semakin bingung. “kotak yang berwarna ungu itu?”
Pattie mengangguk. “kau sudah membukanya?”
Nicole menggeleng. “aku pikir, itu punya Justin yang akan diberikan pada temannya.”
Pattie terkekeh. “ambillah. Aku penasaran dengan hadiah yang dia berikan.”


Menit kelima, Nicole kembali tiba diruang kerja Pattie dengan membawa tiga kotak ungu yang dimaksud Pattie.


“bukalah.”


Nicole membuka kotak yang paling besar. Matanya membulat begitu mengetahui kalau isi kotak itu adalah high hells yang tadi siang dilihatnya bersama Justin. Ada sebuah kertas terselip.


Karena sudah dibeli, kau harus memakainya! Jangan hanya disimpan.


Nicole tersenyum membaca serentetan kata yang ada dikertas itu. Ia mencoba sepatu itu, dan ternyata pas! Sangat pas dikakinya.


Ia lalu membuka kotak yang kedua. Ia kembali terkejut mendapati syal ungu yang dilihatnya ditoko tadi. Ada kertas juga.


Kau harus memakainya saat udara semakin dingin! Kalau tidak, aku akan membakar syal ini!


Nicole tertawa kecil. Mana mungkin dia tidak memakai syal ini. Kalau perlu, ia akan memakai syal ini sekarang.


Nicole menggelengkan kepalanya lalu membuka kotak yang terakhir. Kalung berliontin peri! Yang dilihatnya ditempat aksesoris. Senyum Nicole melebar.


Ingat, kau juga harus memakai kalung ini. Tapi, kau tidak boleh melepas kalung yang saat ini kau pakai. Karena dengan kau memakai kalung itu, aku jadi tahu posisimu. So, kau harus memakai keduanya.


“hadiah yang menarik.” ujar Pattie. “lihat, sepatumu, syalmu, kalung, bagaimana dia bisa membeli semua ini? Ini pertama kalinya ku lihat dia memberikan barang-barang untuk perempuan.” sambungnya.
“benarkah?”
Pattie mengangguk. “bahkan saat Wero meminta high hells sebagai kado natal, dia malah hanya memberinya kartu ucapam.” jawab Pattie. “tak apa. Hal ini wajah mengingat kau adalah istrinya. Walaupun kata-kata dalam suratnya ini sedikit kasar, tapi hatinya pasti lembut. Aku yakin.”
Nicole tersenyum.


“aku akan mimpi indah malam ini. Thanks justin.” batin Nicole.
The Half Blood Vampire 32
oleh d'Bezt JD Author pada 30 Januari 2012 pukul 16:09 ·
Nicole menuruni tangga dengan wajah cerah. Dia memakai syal ungu, high hells ungu juga kalung yang diberikan Justin.


Ia pun duduk dihadapan Justin dengan senyum yang mengembang.


“ada apa denganmu?” tanya Justin bingung.


Saat itu hanya ada dia, Justin dan Skandar diruang makan. Karena yang lainnya telah pergi.


Nicole bangkit dari duduknya, dan berdiri disisi Justin. Justin menatap wanita dihadapannya dengan tatapan bingung.


“bagaimana? Cantik tidak?” tanya Nicole.
Justin memperhatikan Nicole dari atas kebawah, lalu bawah keatas. Setelah itu kembali menyantap sarapannya.
“hei! Bagaimana sepatu dan Syalnya?”
“cantik.”
“benarkah?”
“iya.”
“akhirnya kau mengakui kalau aku cantik.” Nicole kembali kebangkunya.
“hei, aku mengatakan syal dan Sepatumu yang cantik. Bukan dirimu.”
Nicole mengerutkan bibirnya. “huh!” dengusnya.
Justin tersenyum tipis.
“jangan dengarkan dia. Kau itu tetap cantik tanpa syal dan sepatu itu.” ujar Skandar.
Nicole tersenyum pada Skandar. “terima kasih.” ia menatap Justin. “lebih baik aku buang pemberianmu ini.”
Justin menatap Nicole tajam. “coba saja kalau kau melakukannya!” ancam Justin.
“wah, sepertinya cinta sudah mulai bersemi dimusim gugur ini.” goda Skandar.
“diamlah!” bentak Justin. “berikan padaku syal dan sepatu juga kalung itu kalau kau tak ingin memakainya, lebih baik dibuang.” ujar Justin pada Nicole.
“enak saja! Inikan sudah menjadi milikku.” bantah Nicole.
“makanya, jangan sembarang bicara.” ketus Justin.
Skandar terkikik pelan melihat adu mulut adik dan adik iparnya.
“ayo berangkat.” Justin bangkit dari duduknya.
Nicole hanya bisa pasrah meski sarapannya belum habis.


Ia pun berjalan duluan keluar karena Justin ingin ke toilet. Lebih baik dia duluan tiba dimobil, jadi dia tak akan kena omel kata-kata “mutiara” Justin.


Nicole terus memandani dirinya. Semuanya pas. Mulai dari rambut yang dia kuncir kuda, lalu syal ungu, baju putih dengan lengan sesiku, celana panjang berwarna dongker, dan sepatu ungu pemberian Justin.


“apanya yang tidak cantik? Dasar buta!” batin Nicole.


“dasar wanita narsis!” cetus Justin.
Nicole terlonjak kaget karena Justin tiba-tiba muncul.
“huh!” dengus Nicole.


Iapun turun dari kap mobil lalu berjalan menuju sisi mobil. Ia masuk ke mobil, dan mengeluarkan earphone. Dia ingin mendengarkan lagu.


Saat ia sudah memejamkan mata, suatu benda terjatuh dipangkuannya. Nicole membuka matanya, ia mendapati sebuah kotak bekal diatas pahanya. Ia menatap Justin.


“sarapanmu tadi belum habis. Sebaiknya kau makan lagi.” ujar Justin lembut.
Nicole mencopot earphonenya karena tak mendengar ucapan Justin. “apa?”
“makanlah!” bentak Justin.
Nicole tersenyum senang. “terima kasih.”
Justin mengangkat bahu, lalu mulai melajukan mobilnya.


Nicole membuka kotak bekal itu. Dua buah Sandwich isi daging. Tapi, waktu sarapan menunya bukan ini.


“sandwich isi daging?” tanya Nicole bingung.
“makan saja!” ketus Justin.
“kenapa kau ini galak sekali! Sangat berbeda dengan Greyson.”
“ya sudah. Menikah saja dengan Greyson!”
“dia kan kakakku. Mana bisa.” ujar Nicole bingung.
“sudahlah! Makan saja sandwich itu. Pokoknya, ketika kita sampai dikampus, kau sudah menghabiskannya.” ujar Justin.
“tapi ini kan dua potong, bagaimana aku bisa menghabiskannya dengan cepat?” bantah Nicole.
Justin menghela nafas panjang karena sifat cerewet Nicole. Ia pun mengambil sepotong sandwich lalu memakannya. “bagaimana? Masih tidak bisa menghabiskannya?” tanya Justin setelah menelan makanannya.
Nicole tersenyum. “aku akan menghabiskannya.” ujarnya. “tapi....”
“apalagi??” tanya Justin jengkel.
Nicole kembali tersenyum. “kau punya minum kan? Nanti kalau aku tersendak bagaimana?”
Justin menghembuskan nafas kuat-kuat. Ia pun memberikan sebotol air mineral pada Nicole.


Nicole mulai memakan sandwich itu dengan tekun. Ia sangat menikmati sandwich isi daging yang ia yakini itu adalah buatan Justin. Kalau bukan buatan Justin, buatan siapa lagi? Jelas-jelas menu sarapan tadi hanya roti selai dan susu.


Sementara Justin, sesekali melirik wanita disampingnya yang dengan tekun memakan sandwich buatannya. Perlahan dia tersenyum.


“kenapa kau tersenyum?” tanya Nicole bingung.
Justin tersentak, lalu kembali memperlihatkan wajah datarnya.
“kau tahu, kau sangat tampan kalau sedang tersenyum seperti tadi.” puji Nicole.
Tak ada jawaban dari Justin. Ia tetap berkonstrasi pada jalanan yang dilaluinya.
“coba tersenyum lagi? Aku ingin memotretmu.” ujar Nicole sambil mengeluarkan ponselnya.
“jangan coba-coba!” bantah Justin, lalu merebut ponsel Nicole.
“hei, kembalikan.”
“tidak. Sebelum kita tiba dikampus.”
Nicole mendesah pelan dan membiarkan Justin menyita ponselnya untuk sementara.


Saat tiba dikampus, Nicole kembali menerima ponselnya. Mereka pun jalan beriringan. Namun, saat tiba dikelas, ia memisahkan diri karena bangku yang kosong tidak berdekatan. Saat duduk dibangkunya, sebuah pesan masuk ke ponselnya.


From : Justin

kau cantik hari ini. Aku suka.


Nicole tak bisa menahan senyumnya.
The Half Blood Vampire 33
oleh d'Bezt JD Author pada 30 Januari 2012 pukul 21:52 ·
Hari itu libur kuliah. Jadi Nicole tak ada pekerjaan apapun. Semua orang pergi melakukan kegiatan masing-masing. Sedangkan Justin? Tidur! Kata-kata Wero sangat tepat untuknya, “si tukang tidur”.


Nicole menonton untuk mencari kesibukan. Satu jam kemudian dia mulai bosan, lalu beralih bermain game online. Tak sampai setengah jam, dia sudah bosan.


Ia melirik jam. 9.30. Sebuah ide muncul dibenaknya. Lebih baik dia ke kantor Greyson!


Setelah menukar pakaian, Nicole membangunkan Justin. Sekedar minta izin, kalau dia akan ke kantor Greyson.


“eergh!” erang Justin, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Nicole membuka selimut yang menutupi tubuh Justin. “Justin?”
“apa?” tanya Justin tanpa membuka matanya.
“aku ingin ke kantor Grey. Boleh tidak?”
“hmm...” gumam Justin malas-malasan.
Nicole tersenyum. “terima kasih Justin.” ucap Nicole senang.


Ia bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menuju pintu. Langkahnya terhenti saat akan membuka pintu. Ia kembali kearah Justin, lalu mencium bibir Justin sejenak. Sambil tersenyum kecil, Nicole keluar dari kamar.


Saat sedang menuruni tangga, bel rumah berbunyi. Dengan langkah agak cepat, Nicole berjalan ke pintu depan. Mungkin itu taksi yang dipesannya.


Nicole terkejut melihat seorang wanita seumuran dengannya. Perempuan itu pakaiannya cukup aneh. Memakai dress dengan tali kecil, padahal sedang musim gugur.


“kau siapa?” tanya wanita itu.
Nicole menatap wanita itu bingung. “aku Nicole.” jawabnya. “lalu kau?”
“oh, Nicole Athena Bieber, benar?” tanyanya dengan nada sinis.
Nicole mengangguk. “kau siapa?” tanya Nicole lagi.
“kenalkan, aku Caitlin.” Caitlin mengulurkan tangannya dengan angkuh.
Nicole menjabat tangan Caitlin. “Nicole. Jadi, kau ingin bertemu Justin?”
Caitlin menggeleng. “aku hanya ingin melihat bagaimana wajah istri Justin, yang kata orang cantik.”
Tak ada perasaan senang pada hati Nicole saat Caitlin mengucapkan kalimat itu. Karena nada bicaranya sinis.
“karena aku sudah bertemu denganmu, aku pamit pulang. Oh ya, sampaikan salam hangat dariku untuk suamimu.” ucap Caitlin sebelum ia pergi.


Tak lama setelah mobil Caitlin pergi dari rumah itu, taksi yang dipesannya datang.


---


Perlahan Justin membuka matanya. Ia mendapati Nicole tak ada disampingnya. Ia pun melirik jam. 2.45. Justin tersentak. Sudah lewat jam makan siang!


Justin duduk ditempat tidurnya, lalu memandang kesekeliling, mencari keberadaan Nicole. Tapi hanya dia makhluk yang bernafas yang ada diruangan itu.


Perlahan ia memegang bibirnya, sambil tersenyum. Ketika tidur, ia bermimpi Nicole mencium bibirnya meski hanya sebentar.


Selesai mandi, Justin turun bawah mencari keberadaan Nicole. Pasti wanita itu sangat kebosanan. Ia melihat Skandar dan Wero juga Cody sedang menonton diruang tengah.


“apa kalian lihat istriku?” tanya Justin kelepasan.
Semua menatap Justin bingung. Tak lama kemudian, sorak menggoda terdengar di seantero rumah.
“sudahlah! Apa kalian melihat Nicole?”
“aku kira dia tidur bersamamu. Aku tak melihatnya dari tadi.” jawab Wero.
“semenjak kau pulang?” Justin memastikan.
“kami tidak melihatnya sama sekali.” jawab Cody.
“mungkin dia kehutan belakang rumah.” acuh Skandar.
“tidak mungkin!” sahut Justin.


Ia pun keluar dari rumah sambil menelfon Nicole. Namun, tak diangkat. Sambil terus mengemudikan mobil, Justin terus menghubungi wanita itu. Tetap saja tak ada jawaban.


Ia pun mencoba menelfon Miley.


“kau bersama Nicole?” tanya Justin begitu Miley mengangkat telfonya.
“tidak. Kena.....”


Telfon langsung terputus begitu Miley mengatakan tidak. Ia menghubungi Selena. Hasilnya sama. Lalu Pattie, kedua mertuanya dan hasilnya sama. Tidak mengetahui keberadaan Nicole.


Pikiran buruk langsung menghantuinya. Ia berpikir kalau Nicole disandera oleh vampire lain yang tak sengaja menemukan Nicole.


“Nic, please. Pegang kalung itu dan sebut namaku agar aku mengetahui keberadaanmu.” pinta Justin.


Sebuah cahaya terang muncul dibenaknya. Sebuah suara berbisik ditelinganya. Kantor Greyson.


“bodoh! Kenapa aku tak memikirkan itu!” gerutu Justin.


Dengan langkah besar, Justin masuk kegedung bertingkat itu.


“selamat siang Tuan. Ada yang bisa dibantu?” sapa resepsionis ramah.
“dimana ruang Greyson?”
“apa tuan telah membuat janji sebelumnya?”
“aku tidak perlu membuat janji dengannya!”
“maaf Tuan. Anda tidak bisa bertemu dengan beliau.”
Justin melotot kesal. “aku tidak ingin bertemu dengan bosmu! Tapi dengan istriku. Adik Greyson! Nicole Athena Biebe.” ujar justin emosi. “jadi dimana ruangan Greyson?”
“dilantai 7. Disana hanya ada ruangan bapak Greyson.” jawab Resepsionis itu.
“terima kasih!”


Justin pun berlari menuju tangga. Ia ingin segera sampai dilantai 7 untuk bertemu Nicole. Memastikan kalau wanita itu baik-baik saja.







The Half Blood Vampire 34
oleh d'Bezt JD Author pada 1 Februari 2012 pukul 20:03 ·
Maaf yaa... Aku baru next sekarang, jujur ini rumah lagi ngadain tahlilan, tapi ngeliat pada demo, bawa spanduk plus parang, aku usahain post, maaf kalau kacau -_-v



Justin langsung masuk kedalam ruangan itu tanpa mengetuk. Ia memperhatikan setiap inci ruangan itu, mencari keberadaan Nicole. Nihil. Tak ada satu orang pun disana. Termasuk Greyson. Hanya suara televisi yang tak dimatikan yang terdengar.


Saat Justin akan keluar dari ruangan itu, terdengar erangan kecil dari balik sofa yang berwarna putih tulang. Perlahan Justin berjalan menuju sofa itu.


Hatinya berlonjak gembira saat melihat wanita yang dicemaskannya tengah tertidur pulas diatas sofa itu. Justin berjongkok didepan wanita itu.


Ia memperhatikan lekuk wajah wanita dihadapannya dengan seksama. Tak ada satupun yang luput dari pandangannya. Wajah wanita itu terlihat damai, polos juga tenang. Ini pertama kalinya ia memperhatikan wanita itu ketika tidur. Ternyata wajah wanita itu benar-benar seperti anak kecil, jika sedang tidur.


Nicole membuka matanya perlahan. Ia terkejut melihat wajah Justin dihadapannya. Ia langsung terduduk di sofa, karena rasa terkejutnya. Justin juga terkejut. Membuatnya langsung berdiri tegak. Ia takut Nicole sadar ketika ia memperhatikan wajah wanita itu.


“kenapa kau bisa disini?” tanya Nicole masih dengan jantung yang masih bedegup kencang.
“aku yang harusnya bertanya! Kenapa kau bisa disini?!” tanya Justin balik.
“tentu saja karena aku bosan dirumah.” jawab Nicole.
“kenapa tidak memberitahuku? Kau lupa kalau aku ada dirumah?! Kau harusnya meminta izin dariku sebelum pergi kesini! Kau bisa membangunkanku dan aku akan mengantarmu! Kau tahu, aku khawatir padamu! Aku malah berpikir kau disandera vampire lain yang mengetahui keberadaanmu dirumahku!” omel Justin panjang lebar. “Greyson pasti akan membunuhku kalau kau benar-benar diculik oleh vampire lain!”
“tapi aku sudah meminta izinmu, dan kau mengizinkanku. Karena itu aku langsung pergi.” Nicole membela diri.
“kapan kau meminta izinku?” tanya Justin.
“ya ketika kau tidur. Kau menjawabnya dengan gumaman.” ujar Nicole.
“aku tidak ingat!” Justin mengibaskan tangannya. “lalu, kau menggunakan kendaraan apa untuk sampai kesini?”
“taksi.” jawab Nicole jujur.
“dengar, mulai sekarang kau tidak boleh menggunakan taksi lagi. Kemana pun kau pergi, kau harus pergi denganku! Mengerti?”
Nicole mengangguk. “iya.”
“maaf, apa kuliahmu sudah selesai?” Greyson mengintip di sela pintu.
Justin menatap Greyson kesal. “memangnya aku dosen?!”
Greyson tertawa. “kau terlihat seperti dosen ketika sedang memarahi Nicole. Hehe. Kau tak perlu khawatir, dia cepat mengerti.” ujar Greyson. “jadi, apa aku boleh masuk?” tanya Greyson.
Justin mengangguk. “tentu saja.” Justin menatap Nicole. “ayo kita pulang.”
“tapi aku ada janji makan siang dengan Grey.” bantah Nicole.
“sebaiknya kau makan dengan suamimu saja, benarkan Justin?” Ujar Greyson.


Nicole mendesah pelan. Mana mungkin dia pulang dengan Justin. Ia masih belum siap mendengar ceramah Justin edisi kedua.


“Grey, aku pulang dulu.” pamit Nicole.
Greyson tersenyum. “hati-hati, sayang.” ia mencium puncak kepala Nicole.


Hening. Tak ada suara yang terdengar dalam mobil itu. Hal itu membuat suasana dalam mobil itu semakin mencekam bagi Nicole. Nicole menghela nafas panjang.


“jangan seperti itu lagi.” ujar Justin.
Nicole menatap Justin bingung. “maksudmu?”
“jangan keluar rumah tanpa izin dariku. Kau hanya boleh keluar denganku, dan dengan orang-orang yang ku percaya.” ucap Justin dengan suara lunak. “keberadaanmu sudah cukup banyak diketahui para vampire, seperti Ryan, dan teman Skandar. Jadi, kau harus berati-hati.”
“jangan membuatku takut.” ujar Nicole.
“aku tidak sedang menaku-nakutimu, Nicole. Aku bicara tentang kenyataan. Keselamatanmu memang tercancam.” ujar Justin tenang.


Nicole hanya diam tak lagi membantah ucapan Justin. Perkataan Justin tadi sukses membuatnya semakin takut akan vampire.


“tak perlu takut. Aku juga keluargaku akan berusahat melindungimu. Okay?” Justin mengacak poni Nicole.
Nicole menatap Justin tak percaya. Baru kali ini ia melihat tatapan justin selembut itu. “baru kali ini aku melihatmu selembut ini. Kau tahu, aku suka melihatmu seperti tadi.”
Justin menarik tangannya dari kepala Nicole, kembali berkonsentrasi pada jalanan yang dilaluinya.
“oh ya, tadi Caitlin datang kerumah.......”


Justin langsung membanting setir ke tepi jalan,lalu mengerem mobilnya. Beberapa orang dibelakang mereka mengutuk tindakan Justin yang tiba-tiba itu.


“ada apa?” tanya Nicole bingung.
“kau bertemu Caitlin?”
Nicole mengangguk semangat. “dia temanmu ya? Kau mendapatkan salam hangat darinya. Aku tak menyangka ada juga orang yang menyukaimu.” Nicole terkikik.
Justin menatap Nicole tajam. “apa yang dikatakannya?”
“hanya itu.”
“jangan temui dia lagi.”
“kenapa?”
Justin menatap Nicole dengan tatapan dinginnya, membuat Nicole terdiam. “jangan bantah ucapanku. Jangan sampai kalungmu itu hilang! Kau akan mati jika hal itu terjadi!”
deg!



The Half Blood Vampire 35
oleh d'Bezt JD Author pada 3 Februari 2012 pukul 18:03 ·
Selama sisa perjalanan, Nicole hanya diam. Ia tak ingin berbicara lagi. Jika ia berbicara lagi, hidupnya akan bertambah buruk. Tekadnya saat ini, menjaga kalung pertama yang diberikan Justin dengan sebaik-baiknya.


“sudah sampai.”


Nicole menatap keluar jendela, ini bukan rumah. Melainkan sebuah restoran.


“kau belum makan siangkan? Ini sudah hampir jam 3.” ujar Justin. Seperti biasa, terkesan cuek.
Nicole mengangguk senang. “ayo.” ucapnya semangat.


Walaupun Justin sering membentaknya, cara bicaranya ketus, cuek atau dingin, dia sudah mulai terbiasa. Karena begitulah Justin. Pattie bilang, sikap Justin seperti itu sudah dari kecil.


“mau pesan apa?” tanya pelayan.
Nicole bergumam sambil memperhatikan daftar menu. “in....”
“menu nomor lima saja, dengan minum yang ini.” ujar Justin menunjuk salah satu gambar dibuku menu.
“nona?”
“samakan saja!” ujar Justin sebelum Nicole membuka mulut.
Nicole menatap Justin jengkel.
“apa?” ketus Justin.
“kenapa harus sama denganmu?” protes Nicole.
“kau terlalu lama berpikir. Aku juga lapar dan ingin pulang secepatnya.”
Nicole menggerutu tanpa bersuara.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Nicole mengedarkan pandangannya. Pandangannya terhenti pada sudut restoran. Disana ada Caitlin yang tengah menatapnya tajam. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.


“ada apa dengannya?” batin Nicole.


“dengannya siapa?”
Nicole tersentak mendengar suara Justin. Ia mengalihkan pandangannya dari Caitlin.
“kau seperti terkejut?” Justin memastikan.
“ti..dak. Bukan apa-apa.” jawab Nicole gugup.
Justin menajamkan pandangannya pada Nicole. “aku tahu yang kau pikirkan. Jadi siapa orang itu?”
Nicole kembali melirik meja Caitlin. Kosong. Makanan dan minumannya pun sudah tidak ada. Matanya langsung membulat.


“kemana dia?” pikir Nicole bingung.


“aku tanyakan kembali, siapa dia yang kau maksud?” tanya Justin penuh penekanan.
Nicole kembali menatap Justin. “aku mohon, jangan tatap aku seperti itu.” lirih Nicole.
“jadi, siapa yang kau lihat?”
“dia sudah pergi.” jawab Nicole.
“Nic, jangan berbelit-belit. Katakan padaku siapa yang kau lihat? Dan dia dimeja mana?” tanya Justin.
“Caitlin.” ucap Nicole pelan.
Mata Justin melebar. “dimana dia?” tanyanya dengan rahang terkatup.
“dia sudah pulang, dan tadinya dia di meja disudut ruang....” ucapan Nicole berhenti karena Caitlin sudah ada dimeja itu lagi. Lengkap dengan makanan dan minuman yang tertata diatas mejanya.
Caitlin mengangkat kepalanya, lalu tersenyum kearah mereka.
Justin tersenyum singkat, lalu kembali menatap Nicole.
“aku tidak bohong. Tadi dia benar-benar sudah pergi.” ujar Nicole.
“kita pulang.” Justin bangkit dari mejanya.


Justin menarik tangan Nicole. Mereka berjalan menuju kasir. Setelah membayar pesanan mereka, mereka pun keluar.


“kenapa kita pulang, kita bahkan belum makan?” tanya Nicole setelah justin menjalankan mobilnya.
“kau tidak baik berdekatan dengannya.” ujar Justin.
“dia siapa?” tanya Nicole bingung.
“Caitlin, tentu saja.” jawab Justin gusar.
“kenapa wajahmu panik begitu?” tanya Nicole lagi.


Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Nicole. Caitlin adalah vampire asli, yang tentu saja punya kekuatan lebih darinya. Ia tak kan mungkin menang melawan Caitlin jika mereka melakukan adu kekuatan. Dari cara menatap, ia tahu kalau Caitlin sedang memahami seluk beluk diri Nicole. Dan itu bukan pertanda baik.


“Justin?” panggil Nicole.
Justin diam.
“Justin?” Nicole menaikkan suaranya.
Tetap tak ada reaksi.
“hei?” Nicole menyentuh pundak Justin pelan.
Justin terlonjak. “apa?”
“apa yang kau pikirkan?” tanya Nicole.
“bukan apa-apa.” ujar Justin gugup.
Nicole memperhatikan raut wajah Justin.
“sudah sampai.” ujar Justin.


Mereka pun keluar dari mobil, dan masuk kerumah. Lebih tepatnya Justin. Nicole masih berdiri didepan teras. Ia bingung melihat ekspresi justin. Baru kali ini wajah Justin terlihat gugup dan sepertinya sedang ada yang dipikirkannya.


Saat Nicole akan masuk, ia menangkap bayangan seseorang pada jendela disamping pintu masuk. Sosok itu adalah Caitlin. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Apalagi ketika melihat seringai diwajah cantik Caitlin.


Ia ingin melangkah, tapi kakinya terasa berat. Ia merasa Caitlin semakin dekat kearahnya. Keringat dinginnya semakin mengucur deras. Panik. Cemas. Takut.


“pegang kalung itu dan sebut namaku.”


ia teringat ucapan Justin. Ia menggerakkan tangannya memegang bandul kalung. Ia merasa Udara didekatnya semakin berkurang, membuatnya susah bernafas.


“Justin.” lirih Nicole.


Justin yang sedang minum didapur merasakan kalung yang digunakannya memanas. Menandakan Nicole baru saja memanggilnya dan keadaannya dalam bahaya. Ia segera berlari keluar rumah, membuat semua saudaranya bingung.


Bruuk


Saat Justin tiba di teras, tubuh Nicole langsung tumbang kearahnya. Pingsan.


“kau datang tepat waktu Mr. Bieber.” ucap Caitlin.
Saat Justin ingin berbicara, Caitlin sudah hilang dari pandangan.
The Half Blood Vampire 36
oleh d'Bezt JD Author pada 4 Februari 2012 pukul 16:14 ·
Justin langsung menggendong tubuh Nicole, membawanya masuk. Wero, Skandar, juga Cody terkejut melihat tubuh Nicole yang terkulai lemas dalam pelukan Justin.


“ada apa dengannya?” tanya Wero panik.
“pingsan.” ucap Justin tanpa menghentikan langkahnya.


Semuanya mengikuti Justin yang berjalan menuju kamar. Perlahan, ia membaringkan Nicole diatas tempat tidur. Wajah wanita itu terlihat pucat.


“ada apa dengannya?” tanya Skandar sambil menyentuh pipi Nicole.
“tidak tahu.” ketus Justin sambil memukul tangan skandar.
Skandar tertawa pelan. “wow, marah.”
“kau ini!” dengus Cody. “jadi dia kenapa?”
“bukankah sudah ku katakan, aku tidak tahu?” ujar Justin. “tiba-tiba dia memanggilku, begitu aku tiba diteras, dia langsung ambruk.”
“kenapa?”
“aku rasa Caitlin yang melakukan ini.” gumam Justin.
“Caitlin?” tanya Skandar, Cody dan Wero bersamaan.
“dia sudah bertemu Caitlin?” tanya Wero tak percaya. “astaga.”


Justin terus mondar mandir disisi tempat tidur seraya berpikir. Apa yang telah dilakukan Caitlin pada Nicole, sampai-sampai Nicole pingsan? Tapi, Caitlin berkata, ia datang tepat waktu. Tepat waktu bagaimana? Nicole sudah pingsan ketika ia datang.


“eeergh.” terdengar erangan kecil.


Semua yang ada diruangan itu langsung menatap Nicole. Mereka langsung mengelilingi Nicole.


“kau sadar?”
“apa yang terjadi?”
“kau bertemu Caitlin?”
“kau baik-baik saja?”


Keempat pertanyaan itu terlontar bersamaan dari mulut Skandar, Wero, Cody dan Justin.


“Justin.” ucap Nicole lirih.


Ketiga saudaranya langsung heboh menggoda Justin, membuat wajah Justin terlihat merah. Namun wajahnya berubah tegang saat Nicole berkata,


“Caitlin?”


Nicole membuka matanya lebar-lebar. Memperhatikan keempat orang yang mengelilinginya. Ia bersyukur karena tak ada Caitlin disana.


“minumlah.”


Justin membantu Nicole bersandar pada sandaran tempat tidur, lalu mengansurkan segalas air putih pada Nicole.


“apa yang terjadi?” tanya Justin setelah Nicole menghabiskan minumnya.
Nicole menggeleng. “entahlah. Yang aku ingat, sebelum aku masuk, aku melihat bayangan Caitlin dijendela di samping pintu masuk, setelah itu, aku tidak bisa bergerak. Lalu kesusahan bernafas, hingga semuanya gelap.”
“air power.” gumam Skandar.
“kekuatan udara?” tanya Wero tak mengerti.
“iya. Itu sebuah kekuatan dimana.....”
“kalau kau ingin membual, pergilah keluar.” Justin memotong ucapan Skandar.
“sopanlah pada kakakmu! Dan ingat, aku tidak membual.” ucap Skandar kesal.
“kau aneh Just. Apa yang diucapkan Skandar benar. Air Power......”
Justin melotot kesal kearah Cody.


Ia tahu, apa yang diucapkan Skandar itu benar. Ia pernah membaca kekuatan sejenis itu disalah satu buku diruang kerja Pattie. Buku itu milik ayahnya. Tapi tak mungkin membenarkan ucapan Skandar didepan manusia seperti Nicole. Ia tak ingin membuat wanita itu bingung, dan nanti akan berubah jadi ketakutan.


“apa maksud kalian dengan air power?” tanya Nicole bingung.
“itu sejenis kekuatan yang ada didalam film yang mereka tonton.” ujar Justin.
“ng?” Nicole menatap Justin tak percaya.
“maaf Nic, kami masih terbawa suasana film yang tadi kami tonton.” ucap Skandar meyakinkan.
Justin menatap Skandar dengan tatapan terima kasih.
“aku minta maaf.” ujar Skandar.
“iya, aku juga. Maaf karena membuatmu bingung.” ucap Cody.
“hei, kalian sedang membicarakan apa?” tanya Wero bingung. “menonton film tadi? Dari tadi kalian tidak pernah menonton fi #@%§*&%!!” Wero tak menyelesaikan ucapannya karena mulutnya sudah dibekap oleh Cody.
“sebaiknya kami keluar.” ujar Skandar.


Skandar, Cody dan Wero pun keluar dari kamar. Untuk Wero, ia terpaksa keluar karena ditarik paksa oleh Cody.


“bagaimana keadaanmu? Apa masih kesulitan bernafas?” tanya Justin tanpa bisa menghilangkan nada khawatir dalam suaranya.
Nicole terkekeh. “aku baik-baik saja. Sepertinya aku hanya lapar.” Nicole memegang perutnya.
“baiklah. Kau tunggu disini.” Justin menatap kesekeliling kamar.
“ada apa?” tanya Nicole bingung.
“ayo, kita kebawah. Aku tidak bisa meninggalkanmu.”


Tanpa menunggu persetujuan Nicole, Justin langsung menggendong wanita itu, dan otomatis tangan Nicole langsung bergantung dileher Justin.


Saat didapur, Nicole samar-samar mendengar ucapan Wero.


“Oh, jadi Air Power itu sejenis kekuatan yang membuat udara disekitar musuh berkurang sehingga musuh itu tidak bisa bernafas dan bisa menyebabkan kematian?”
“kira-kira begitulah.”


Nicole tersenyum sendiri mendengarnya.


“kenapa kau tersenyum?” tanya Justin.
“saudaramu lucu sekali. Mereka masih saja membahas Air Power yang ada didalam film. Haha” Nicole tertawa.
Justin tersenyum tipis. “makanlah.”




The Half Blood Vampire 37
oleh d'Bezt JD Author pada 5 Februari 2012 pukul 14:59 ·
Caitlin berteriak melupakan emosinya. Ia benar-benar tak menyangka rencananya untuk membunuh Nicole gagal total. Bagaimana Justin bisa tiba-tiba muncul? Padahal, ia yakin Nicole tak memanggil lelaki itu. Jangannya untuk berteriak, bernafas saja wanita itu sudah susah.


“Caitlin? Ada apa?” Christian, Christian Beadles melongokkan kepalanya di sela pintu.
“diamlah!” bentak Caitlin.
Christian menatap Caitlin bingung. Mata Caitlin berwarna hitam pekat, menandakan kalau dia sedang emosi. “tenangkan dirimu.”

Caitlin kembali berteriak. Teriakannya terdengar frustasi. Kemudian ia mengatur nafas untuk menurunkan emosinya. Setelah tenang, Caitlin terduduk dilantai kamar. Christian menghampirinya, lalu mengusap punggungnya lembut.

“soal Justin?”
Caitlin mengangguk.
“mau bercerita?” pancing Christian.
Caitlin mendesah. “laki-laki itu benar-benar tak mencintaiku!”
“maksudmu?”
“kau tahu, aku sengaja berdekatan dengan Chaz hanya ingin membuatnya cemburu, kemudian dia menyatakan cinta padaku. Tapi dugaanku salah! Bukannya menyatakan cinta, dia malah menikah dengan wanita itu!” jelas Caitlin. “dia benar-benar tidak sadar, kalau disini, ada orang yang mencintainya! Tapi dia memilih menikah dengan gadis bodoh itu! Apa yang dia harapkan dari seorang manusia?!”
Christian kembali menenangkan Caitlin. “karena itu, kau berniat membunuh Nicole?”
Caitlin menatap Christian tak percaya. “bagaimana kau bisa tahu?”
“aku tak percaya ketika kau mengatakan ingin membiarkan Justin bahagia dengan istrinya. Karena itulah aku mengikuti kemana pun kau pergi. Hingga akhirnya tadi aku melihatmu menggunakan Air Power untuk membunuhnya.” jelas Christian.
Caitlin menatap Christian tajam. “jadi kau yang membatalkan semua rencanaku? Jadi rencanaku gagal bukan karena kedatangan Justin?” tuntut Caitlin.
“iya.” sahut Christian pelan.
Caitlin bangkit dari duduknya. “saudara seperti apa kau?! Kau tak ingin melihat adikmu bahagia, begitu?!” Mata Caitlin kembali berubah warna.
“kau salah. Aku sangat menginginkan kau bahagia.” ujar Christian tenang.
“lalu kenapa kau membatalkan rencanaku untuk membunuh Nicole, hah?” jerit Caitlin. “kau tahu, jika manusia itu mati, Justin bisa kembali padaku! Dan itu adalah saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidupku.”

Christian menatap Caitlin tenang, tanpa emosi sedikitpun.

“apa kau pernah memikirkan kelanjutan kisah yang akan terjadi setelah kau membunuh Nicole?” tanya Christian.
Caitlin tertawa sinis. “bodoh! Tentu saja aku akan membuat Justin kembali padaku.”
“kau terlalu sering memikirkan keuntungan atas apa yang kau lakukan. Pernahkah kau berpikir tentang kerugiannya?”
Caitlin terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.
“pernahkah kau berpikir, kalau Justin tahu kau yang berniat membunuh istrinya? Apa kau masih yakin, dia akan kembali padamu setelah apa yang kau lakukan pada istrinya?” tanya Christian. “aku yakin, demi matahari dan bulan, dia tidak akan pernah kembali padamu. Jangankan kembali, bertemu denganmu saja dia tidak akan mau.”
Caitlin merasa terjatuh dari gedung yang sangat tinggi dan di sambut dengan pedang runcing dan tajam. Semua ucapan Christian berhasil membuatnya lumpuh.
“sebaiknya, saat kau akan melakukan sesuatu, jangan hanya pikirkan keuntungan. Tapi pikirkan juga kerugian yang pasti di timbulkan dari apa yang kau lakukan.” ujar Christian. “menurutku, alangkah baiknya kau benar-benar melepaskan Justin dan istrinya.”
Caitlin menggeleng. “aku akan menunggu sampai dia tidak lagi bersama istrinya.”
“kau hidup bukan hanya untuk menunggu sesuatu yang belum pasti terjadi. Lebih baik melangkah maju, karena aku yakin, ada sebuah kebahagian yang menantimu didepan sana.”
“aku tak mengerti.” gumam Caitlin.
“Chaz, dia mencintaimu, bukan?”
Caitlin mendesah. “aku tahu. Tapi aku masih mencintai Justin. Sampai sekarang, belum ada yang bisa menggantikannya. Kau tahu benar, Chris.”

bruuk

sebuah kotak berukuran kecil terjatuh di lantai.

Caitlin dan Christian menoleh kearah pintu. Terlihat Chaz dengan wajah terkejut sedang menatap mereka.

“terima kasih telah membuatku berharap.”
Caitlin segera memegang pergelangan tangan Chaz, sebelum Chaz pergi. “maafkan aku. Sungguh. Aku tak bermaksud......”
“let me go.”
“tidak. Sebelum kau mendengarkan penjelasanku.”
Chaz mendesah. Ia tak bisa melihat Caitlin memohon. “baiklah.”
“terima kasih. Aku memang masih mencintai Justin. Tapi aku sedang dalam tahap melupakannya. Dan agar bisa melupakannya, aku membutuhkanmu. Aku berjanji, demi langit dan bumi akan belajar mencintaimu, setiap hari. Aku berjanji.”
Chaz hanya diam.
“aku mohon, percaya padaku.” Caitlin berlutut didepan Chaz.
Chaz terkejut. “iya, aku percaya padamu. Tapi tolong hentikan ini. Aku tak bisa melihatmu berlutup seperti ini.”
perlahan Caitlin bangkit. “terima kasih.”
“sepertinya kau harus memasangkan ini pada jari adikku?” Christian melempar kotak kecil tadi pada Chaz.
Chaz tersenyum. “tentu saja.” Chaz memasangkan cincin pada jari manis Caitlin.


The Half Blood Vampire 38
oleh d'Bezt JD Author pada 5 Februari 2012 pukul 17:34 ·
Nicole membuka matanya perlahan, ia melirik jam. 5 a.m. Ia melirik kesisi tempat tidur yang lain. Kosong. Tak ada Justin.


Kadang ia berpikir, kenapa Justin tak pernah mengantuk ketika di kampus sementara ia tidak pernah tidur? Walaupun sepulang kuliah laki-laki itu langsung tidur. Tapi apakah waktu 3 jam bisa menghilangkan kantuk ataupun lelah?


Nicole bangkit dari tempat tidur, berniat ke kamar mandi. Sesaat ia berdiri didepan meja rias.


Deg!


Nicole merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia kembali melihat Caitlin didalam cermin itu. Nicole segera berlari menuju pintu namun tangannya ditahan Caitlin.


“siap..siapa kau sebenarnya?” tanya Nicole cemas.
“menurutmu siapa?” tanya Caitlin. Kali ini suaranya terdengar bersahabat. Apa?


“vampire.” pikir Nicole.


“yeah. Aku vampire. Asli tanpa campuran darah manusia.”
Nicole tak menemukan suaranya.
“jangan tegang begitu. Aku kesini bukan ingin membunuhmu seperti kemarin.”
Mata Nicole membulat mendengar kata kemarin.
“kau ingat saat kau kekurangan oksigen? Yeah. Saat itu aku menggunakan kekuatanku......”
“Air Power.” dua kata itu meluncur begitu saja dari bibir Nicole.
“wah, Justin sudah memberitahumu.” ujar Caitlin.
“katakan tujuanmu yang sebenarnya, Cait.”


Nicole terlonjak saat mendengar suara itu. Hanya suara.


“oh, dia Chris. Kakakku. Lengkapnya Christian Beadles.” ujar Caitlin.


Akhirnya, muncullah sosok laki-laki. Dia berdiri disamping Caitlin, dia pun tersenyum pada Nicole.


“hai.”
Nicole tersenyum canggung.


“Justin! Kau dimana?!” jerit Nicole dalam hati.


“Justin sedang dihutan, Nic.” jawab Christian. “ku mohon, kau tak perlu takut pada kami.”
“Chris benar. Kami, lebih tepatnya aku, kesini bukan untuk membunuhmu, aku hanya ingin minta maaf padamu soal kejadian kemarin.”
Nicole tak percaya. “apa?”
“aku minta maaf. Aku minta maaf karena hampir membuatmu mati. Saat itu, aku benar-benar di kuasai emosi, sehingga aku tidak berpikir dampak akibat perbuatanku.” jelas Caitlin. “Justin memang takkan bisa membunuhku, tapi ia akan melakukan lebih dari itu. Ia tak akan mau bertemu denganku seumur hidupnya, karena aku berani membunuh istrinya.”
Nicole hanya diam. Mendengarkan semua kalimat yang terlontar dari mulut Caitlin.
“sebelum kesini aku tak sengaja bertemu dengannya. Kau tahu, dia mengajakku bertarung. Padahal kekuatanku jauh lebih besar darinya. Dia melakukan itu karena aku hampir membuatmu celaka. Ah, dia benar-benar menyayangimu.”
“oh,” hanya itu yang mampu diucapkannya. Ia bingung ingin berkata apa.
“apa kau mau memaafkanku? Aku berjanji demi langit dan bumi tak akan melakukan sesuatu yang dapat mencelakakanmu.”
Nicole bergumam.
“aku pastikan, jika dia mengulangi kesalahannya, kau bisa meminta bantuanku untuk menghukumnya.” ujar Christian.
“tapi, kenapa kau ingin membunuhku?” tanya Nicole.
“kau tidak tahu? Justin tak memberitahumu kalau aku adalah orang yang sempat dekat dengannya sebelum kalian menikah?” tanya Caitlin tak percaya.
Nicole menggeleng. “jadi karena kau ingin merebut Justin?”
“kira-kira begitulah.” ujar Caitlin. “tapi percayalah. Aku tak akan merebut Justin darimu. Aku sudah punya pengganti Justin.” Caitlin menunjukkan cincin yang melingkar dijari manisnya.
“mereka sedang dalam perjalanan pulang.” ujar Christian.
“baiklah. Aku pamit pulang. Terima kasih karena sudah memaafkanku. Aku harap kita bisa berteman baik setelah ini.” ujar Caitlin.


Kemudian Caitlin dan Christian pun berjalan menuju balkon kamar yang pintunya memang selalu terbuka, lalu hilang.


“astaga! Hidupku dikelilingi vampire! Suami, kakak dan adik ipar, bahkan sekarang aku punya teman yang juga Vampire!” gerutu Nicole.


Ia kehilangan minat untuk ke toilet. Saat ia akan berjalan ke tempa tidur, sebuah suara mengejutkannya.


“kenapa kau sudah bangun?”
Nicole memutar badannya. “kau membuatku kaget.”
Justin berjalan masuk. “jadi, apa yang membuatmu bangun sepagi ini? Ini masih jam 6.”
“memangnya tidak boleh?”
Justin mengangkat bahu, lalu menghempaskan diri ditempat tidur.
“kenapa kau tidur? Bukannya hari ini kita kuliah?”
“kau lupa? Kita punya hari dimana mata kuliah itu kosong. Dengan kata lain, libur.” ujar Justin tanpa membuka matanya.
Nicole mencoba mengingat-ingat. “benar juga.” gumamnya. “ah, aku ingin tidur lagi.”


Nicole ikut menghempaskan diri ditempat tidur, membuatnya sedikit berguncang.


“Nicole!” erang Justin.
Nicole tertawa pelan. Tiba-tiba ia teringat ucapan Caitlin. “Justin, kau sayang tidak padaku?”
“tidak!” sahut Justin cepat.
Nicole mengerutkan bibirnya, lalu mengubah posisinya membelakangi Justin. Tak lama kemudian ia kembali tertidur.
Justin menatap punggung Nicole sambil tersenyum tipis. “jika kau menyayangi seseorang, kau tak perlu mengatakannya bukan? Cukup menunjukkannya lewat sikap.” ujar Justin nyaris berbisik.
“JUSTIN! AKU SUKA KATA-KATAMU!” teriak Skandar dari kamar sebelah.
“shit!!” umpat Justin.
Tawa Skandar langsung meledak.
“DIAMLAH! AKU INGIN TIDUR!”
“JANGAN LUPA PELUK ISTRIMU, JUSTIN!”
“SHUT UP!”
“ha.. Hahahaha”


The Half Blood Vampire 39
oleh d'Bezt JD Author pada 7 Februari 2012 pukul 16:18 ·
Merasa sudah cukup untuk tidur, Justin perlahan membuka matanya. Cahaya matahari masuk melalui pintu balkon yang terbuka, membuat kamar itu cukup terang mesikipun tirai jendela belum dibuka.


Justin merasa dadanya sedikit berat, seperti ada yang menindih. Ia juga merasa ada tangan yang melingkar dipinggangnya.


Ia terkejut saat melihat kepala Nicole bertumpu didadanya dan tangan kanan wanita itu melingkar dipinggangnya. Sekarang ia sadar apa yang membuat dadanya terasa berat.


Perlahan ia tersenyum. Sebenarnya, ia paling tidak suka dipeluk, meski oleh Pattie sendiri. Bahkan ketika Cody tidur dikamarnya dan tak sengaja memeluknya seperti ini, ia langsung mendorong Cody kuat-kuat membuat Cody terjatuh dari tempat tidur. Tapi ketika Nicole memeluknya, ia merasa tenang. Tindakan wanita itu terasa benar, dan dia tak berniat menggeser tubuh wanita itu darinya.


Saat tengah menikmati wajah polos Nicole, ponselnya yang terletak dimeja kecil disamping tempat tidur berbunyi. Dengan hati-hati, Justin menggerakkan tangannya untuk mengambil ponsel.


Alisnya bertaut. “Greyson?”

Justin menekan tombol hijau pada ponselnya.


“ya Grey?” tanya Justin.
“kau sedang bersama Nicole, bukan?”
Justin melirik Nicole yang masih tertidur. “yeah. Kenapa?”
“ponselnya tidak aktif, jadi suruh dia mengaktifkannya.”
“oh, oke. Hanya itu?”
“sebaiknya langsung ku katakan padamu, kau kan suaminya.”
Justin menunggu Greyson melanjutkan ucapannya.
“hari ini dia ulang tahun, jadi......”
“ulang tahun?” potong Justin kaget. Justin langsung menutup mulutnya saat terdengar erangan kecil dari bibir Nicole. Namun wanita itu tidak bangun melainkan semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Justin.
“bisa?” Greyson membuyarkan lamunannya.
“bisa? Bisa apa?” tanya Justin bingung. Ia tak mendengarkan ucapan laki-laki itu karena terlalu berkonsentrasi pada Nicole.
Greyson mendesah. “kau ini sedang apa? Aku sudah mengatakannya dengan jelas!” ujar Greyson jengel.
“aku sedang... Hmm.... Jadi apa yang tadi kau katakan?”
“hari ini dia ulang tahun, seperti tahun-tahun sebelumnya, kami sekeluarga selalu makan malam bersama. Jadi, katakan padanya untuk datang kerumah nanti malam. Akan lebih baik jika keluargamu juga datang.” Greyson menjelaskan dengan sabar.
“kau tahukan, saat malam tiba, aku dan keluargaku langsung kehutan?” tanya Justin.
“yeah, aku tahu. Tapi mungkin ibumu bisa menemani Nicole? Ibumu tidak ikut kehutan, bukan?”
“ide bagus. Aku akan lebih tenang jika Nicole tidak pergi sendiri kesana.”
Greyson berdehem. “yeah, seorang suami pasti akan sangat mengkhawatirkan istrinya. Jika istrinya bepergian seorang diri.”
“terserah!” dengus Justin.
“hei, kau harus sopan pada kakak ipar, mengerti?”
“aku mengerti, kakak ipar.” ujar Justin malas-malasan.
Greyson tertawa renyah. “baiklah. Kau pastikan Nicole mengaktifkan ponselnya. Aku harus menemani ibuku ke swalayan. Bye.”
“oke. Bye.”


Samar-samar Nicole mendengar suara seseorang sedang berbicara, tak hanya itu ia juga mendengar suara detak jantung. Detak jantung itu terdengar teratur, berirama, indah. Siapa pemilik detak jantung ini? Karena sudah pasti itu bukan detak jantung bantal. Memangnya sejak kapan bantal mempunyai detak jantung?!


Nicole membuka matanya meski masih berat. Setelah mengerjap beberapa kali, barulah ia sadar, kepalanya tidak terletak diatas bantal, melainkan diatas tubuh seseorang. Tangannya juga memeluk pinggang orang itu.


Nicole terdiam, indra penciumannya menangkap satu aroma parfum pada tubuh orang itu. Aroma parfum itu tidak asing lagi di indra penciumannya. Seingatnya ini parfum.....


“oke. Bye.”


Nicole menengadahkan kepalanya kearah sumber suara. Matanya membulat saat melihat wajah Justin yang begitu dekat dengan wajahnya. Justin juga tengah menatapnya.


“kau sudah bangun?”


Dengan segera, Nicole bangkit dari tubuh Justin, dan duduk ditempat tidur. Wajahnya memanas dan sudah pasti memerah.


“wajahmu merah, kau sakit?”


mendengar ucapan Justin, wajahnya bertambah panas.


“ti...tid...tidak.” sela Nicole.
“benarkah?” Justin tak percaya, lalu mengarahkan tangannya pada kening Nicole.
Nicole menepis tangan Justin. “aku sehat.” tegasnya.


Ia tak mungkin membiarkan Justin menyentuh keningnya. Ia tak ingin wajahnya bertambah merah, dan Justin akan curiga.


“sebaiknya kau pergi mandi. Ini sudah jam 10.” ujar Justin datar.
“memangnya kau sudah mandi?”
“aku akan mandi setelahmu. Oh, sebelumnya aktifkan dulu ponselmu. Tadi Greyson menelfon.”
“ada lagi?” tanya Nicole jengkel.
“ah, setelah mandi, kau pakai pakaian hmm... Yang biasa kau pakai untuk bepergian. Ke mall misalnya.” ujar Justin. “jangan lupa, gunakan syal dan high heels yang kuberikan dulu.” sambungnya.
“kenapa aku harus memakainya?” protes Nicole.
“Kenapa kau harus membantah ucapanku?!” tanya Justin mulai kesal. “sekarang, pergilah mandi!”
Nicole memberengut, lalu turun dari tempat tidur. “aku kan hanya bertanya.” gerutunya.
“karena aku akan mengajakmu jalan-jalan.” ujar Justin lantang.
The Half Blood Vampire 40
oleh d'Bezt JD Author pada 7 Februari 2012 pukul 20:55 ·
Dengan semangat, Nicole keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Matanya terpaku pada kasur yang sudah rapi, diatasnya ada sepasang pakaian yang sudah disiapkan. Baju dengan lengan pendek warna ungu, celana jeans putih, kardigan putih, juga ada syal ungu pemberian Justin. Oh, satu lagi, high heels ungu yang juga pemberian Justin.


Ceklek

Kepala Nicole beralih pada pintu kamar yang baru terbuka. Terlihat Justin dengan pakaian berbeda dari tadi pagi. Kaos lengan panjang berwarna ungu dan celana jeans warna putih, namun ia masih memakai sandal rumah. Sepertinya combinasi warna itu tidak asing? Nicole menatap pakaiannya. Oh! Warna pakaian mereka sama! Sial, wajahnya kembali memanas.


“kau baru selesai mandi?” tanya Justin sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. “dasar wanita!”
“memangnya kau sudah?” tantang Nicole.
“kau tidak lihat, aku sudah serapi ini?” Justin balik bertanya. “cepat pakai bajumu! Jangan membuang waktu lagi. Bahkan kita belum sarapan.” sambungnya.
Nicole tersenyum kecil, lalu menyambar pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Nicole keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah pasti disiapkan Justin.


“bagaimana?” Nicole memutar tubuhnya sejenak. “aku cantik bukan?”
“kau terlihat cantik karena pakaian yang kau pakai. Coba kau pakai pakaian yang.....”
“terserah!” potong Nicole dengan wajah cemberut. ia langsung keluar dari kamar.
Justin tertawa kecil, lalu ikut keluar setelah mengambil sisir.


Suasana rumah hari terlihat ramai. Karena hari minggu. Hari libur kuliahnya kebetulan hari minggu. Hampir semuanya ada dirumah, kecuali Wero dan Cody.


“wah, pasangan kita baru bangun ternyata.” ujar Pattie yang sedang membuat cokelat hangat untuk Jeremy, Skandar, Jazzy dan Jaxon.
Nicole tersenyum lemah, lalu duduk dimeja makan.
“dimana Justin?”
“i'm here!” ujar Justin, lalu duduk di hadapan Nicole. “bagaimana Mom, supnya sudah panas?”
“sedikit lagi.” jawab Pattie, lalu keluar dari dapur menuju ruang tengah.
“rambutmu berantakan. Sisirlah.” Justin melemparkan sisir pada Nicole.
“memangnya kenapa kalau berantakan? Disisirpun kau tetap mengejekku jelek.” ketus Nicole.
Justin tertawa kecil. “memangnya kau tidak malu, berpenampilan seperti itu?” tanya Justin.


Nicole mengangkat bahu. Lalu masuk kedapur untuk mengambil sup. Tak lama kemudian dia kembali ke meja makan dengan satu mangkuk sup.


“untukku?”
“ambil saja sendiri!” ketus Nicole, tanpa memperhatikan Justin.
Justin tersenyum tipis lalu bangkit dari duduknya, berjalan menuju dapur.


“kau tahu, kau itu cantik. Tak peduli pakaian apapun yang kau pakai. Karena kau cantik dari dalam.” bisik Justin sebelum kembali ke bangkunya.


Bluuush


semua darah berhenti pada kedua pipi Nicole. Membuat kedua pipinya dipenuhi semburat merah.


“cepatlah makan!” nada perintah dalam suara Justin kembali. “jangan membuang waktu lagi!”
Nicole mendesah pelan. “dasar the half blood vampire.” gumamnya pelan.
“wah, sepertinya itu gelar yang bagus” Skandar ikut bergabung dimeja makan.
“gelar?” tanya Justin tak mengerti.
“yap. Maaf Justin. Ini rahasiaku dan Nicole. Benar begitu?”
Nicole mengangguk sambil tersenyum. Tapi senyumnya langsung pudar saat mata tajam Justin menghujam matanya.
“ayo Nicole. Waktunya berangkat.”
“kemana?” Skandar penasaran.
“Mall may be. Kau mau ikut?” tawar Justin.
“boleh.”
“bagus. kau bisa membawakan barangku dan Nicole nanti. Hahaha” Justin mengakhiri ucapannya dengan tertawa.
Skandar mendengus. “memangnya aku pesuruhmu?!”
Justin kembali tertawa. “ayo, Nicole.” Justin merangkul pinggang Nicole.
Nicole terkesiap. Namun ia tak berusaha melepaskan rangkulan itu.
“Mom, Dad, kami pergi.” pamit Justin.


Justin menyerahkan perjalanan mereka hari itu pada Nicole. Meskipun bingung, Nicole mengikuti ucapan Justin. Mereka pergi ke Mall. Belanja ini dan itu, semua keinginannya dituruti Justin. Setelah puas berbelanja, ia mengajak Justin ke arena bermain. Dan mereka mendapatkan sepasang boneka beruang putih karena memenangkan sebuah permainan.


Justin ikut tersenyum saat wanitanya itu tersenyum. Seolah senyum wanita itu menular padanya. Begitu juga tawanya. Justin merasa seperti bukan dirinya. Karena dirinya tidak gampang tersenyum atau tertawa seperti ini.


Mereka pun duduk berdampingan pada salah satu bangku taman. Beristirahat. Menjelang sore, mereka pergi ketaman, disinilah mereka. Tiba-tiba seperti ada kekuatan, kepala Nicole bergerak kekanan, dan kepala Justin bergerak kekiri. Membuat bibir mereka bersentuhan sesaat. Nicole langsung mengalihkan pandangan dan wajahnya kembali memerah.


“Nicole, boleh aku melakukan sesuatu?”
Nicole hanya diam menunggu tindakan Justin.


Karena mendapat lampu hijau, Justin merengkuh wajah Nicole agar menghadap padanya. Setelah itu dia langsung mencium bibir Nicole lembut. Selang beberapa saat, Justin melepas ciumannya, dan menatap Nicole lembut.


“happy birthday.” ujar Justin dengan suara lembut yang baru pernah didengar Nicole.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar