The Half Blood Vampire 1
>>>> part 1
Mr.
Fujimoto masih terus menerangkan materi kuliah sambil menuliskan
kata-kata penting di whiteboard. Tapi sungguh, aku tak menyimak materi
yang disampaikannya bahkan satu katapun.
Aku lebih
tertarik untuk memperhatikan seorang pria berambut blonde di dekat
jendela. Posisinya menyerong #apaseh? Dari tempatku duduk, jadi aku bisa
melihat wajahnya dengan jelas.
Aku baru satu
tahun duduk dibangku kuliah ini. Pada semester pertama, aku tak terlalu
memperhatikan sikap atau tingkah laku teman sekelasku. Tapi setelah
memasuki semester kedua ini, aku jadi memperhatikan seseorang. Aku ingin
membuktikan perkataan Miley, (Miley Cyrus, sahabatku) tentang sikap
salah seorang teman sekelasku yang katanya aneh.
Oh
ya, kenalkan, namaku Nicola Athena Chance. Tapi aku biasa dipanggil
Niki oleh teman-temanku, dan Ana oleh keluargaku. Aku anak kedua dari
keluarga Chance. Kakakku bernama Greyson Chance. Dia biasa ku panggil
GC. Saat ini, dia sedang menjalankan salah satu perusahaan keluarga
kami. Usia Kami berbeda tiga tahun.
Oke, back to story.
Aku
tidak tahu apa maksud Miley dengan kata 'aneh' yang dia ucapkan. Sejauh
ini, aku tidak melihat keanehan pada dirinya. Kecuali wajahnya yang
terlihat datar, sehingga membuatnya menjadi misterius, juga.... Dingin.
Jujur, Aku tak suka kata yang terakhir.
Tiba-tiba dia menggerakkan kepalanya menatapku.
bluuush!
Dengan
cepat, aku menatap Mr. Fujimoto yang masih menyampaikan materi di depan
kelas. Wajahku memanas karena aksi ku ketahuan. Aku yakin, wajahku
memerah. Dia bertahan menatapku untuk berberapa detik yang kurasa sangat
lama. Saat dia mengalihkan wajahnya, aku menghembuskan nafas lega.
Sungguh, aku takut. Pandangannya begitu menusuk, seolah menelanjangiku.
Aku menyeruput capuccino yang kupesan, sambil terus membalik halaman buku kuliahku yang cukup tebal.
Saat
ini, aku sedang berada dikantin. Tidak terlalu banyak orang, tapi tetap
saja kantin terasa ramai. Tak apa, aku lebih suka di tempat ramai.
“hei, maaf terlambat.” ucap seseorang.
Aku tersenyum menatapnya. “bukan masalah.”
Dia adalah Selena Gomez, sahabatku selain Miley. Aku dan Selena berbeda Fakultas. Karena kami memang berbeda minat.
“dimana Miley?”
“oh, dia sedang ke....”
“i'm here!” Miley duduk dihadapanku.
“kau dari mana?” tanya Selena.
“bertemu Prof. Evans.” ujarnya setelah menyeruput capuccino ku.
Selena mengangguk mengerti.
“Miley, ku rasa, laki-laki itu tak aneh seperti yang kau katakan. Yaa walaupun wajahnya terlihat misterius.” ucapku.
Miley memandangku. “tak aneh bagaimana? Apa kau pernah melihatnya bergabung dengan laki-laki dikelas kita?”
Aku menggeleng.
“apa kau pernah melihatnya datang ketika Fakultas kita mengadakan acara?”
Aku menggeleng lagi.
“apa menurutmu itu hal wajar? Kita sudah sekelas selama satu semester. Kurasa, itu bukan waktu yang sebentar.”
Aku mengangkat bahu. “entahlah. Mungkin dia tipikal orang yang pendiam.”
“pendiam
yang wajar itu seperti Felix. Walaupun pendiam, dia tetap hadir jika
kelas kita melakukan acara. Atau setidaknya, dia selalu menyapa kita.”
Kami
sama-sama terdiam. Aku membaca buku di hadapanku, Selena bermain dengan
I-phone nya. Miley memegang punggung tanganku tiba-tiba.
“oh Tuhan.” desisnya.
“kenapa?” tanyaku dan Selena bingung.
“kurasa, dia sedang menatap kita. Arah jam empat mu.”
Perlahan,
aku memutar tubuhku kearah jam empat. Deg! Kudapati laki-laki itu
tengah menatapku. Kali ini, pandangan yang penuh selidik. Saat mataku
bertemu dengan mata hazel miliknya, dia segera memalingkan wajahnya. Aku
kembali menatap Miley.
“biarkan saja.” ujarku berusaha tenang.
‘jika tahu begini, aku tak akan memperhatikannya.’
The Half Blood Vampire 2
Author
.
.
.
Sambil
berjalan menuju perpustakaan, Nicola membalas pesan dari Miley dengan
I-phonenya. Setelah pesannya terkirim, ia kembali memasukan i-phonenya
kesaku celana jeans yang ia gunakan.
Saat ia
mengangkat kepalanya, ia mendapati Justin yang sedang berjalan
kearahnya. Tentu saja dia dari perpustakaan. Karena ruangan yang ada
dilantai tiga ini hanya perpustakaan. Itu adalah penyebabnya mahasiswa
jarang ditemukan dilorong lantai tiga itu.
Bulu
kuduknya tiba-tiba berdiri saat Justin semakin dekat padanya. Ya, Justin
adalah laki-laki yang beberapa hari yang lalu ia perhatikan dan
memperhatikannya balik. Nama lengkapnya adalah Justin Drew Bieber.
Ibunya seorang desainer yang cukup ternama di NY, kotanya saat ini.
Sedangkan ayahnya, entahlah.
“hai Justin.” Niki memberanikan diri menyapa.
Langkah
Justin terhenti. Ia menatap Niki tajam. Seolah-olah Niki baru saja
melakukan kesalahan. “jangan sok dekat denganku. Aku tak suka.”
Niki menelan ludahnya sendiri.
Justin pun berlalu.
‘aku kan hanya ingin menyapa. Dasar aneh!’ batin Niki.
“jangan sembarangan men-judge orang!” ujar Justin.
Niki langsung memutar tubuhnya. Ia mendapati Justin tengah berdiri menatapnya. “apa maksudmu?”
Justin mengangkat bahu. “kau tahu maksudku, Miss Chance.”
‘astaga! Cara bicaranya berlebihan sekali! Memanggilku Miss Chance! Huh!’ gerutu Niki saat Justin membalikkan tubuhnya.
“memangnya kenapa jika aku memanggilmu Miss Chance?” tanya Justin tanpa membalikkan tubuhnya.
‘di...dia.. Bisa.. Membaca pikiranku?’ tanya Niki tak percaya.
“kalau iya, memangnya kenapa?”
Niki tergagap. “tidak. Tidak apa.”
“baguslah. Lebih baik kau tak usah sok akrab denganku jika ingin kehidupanmu baik-baik saja.”
“kau mengancamku?” tanya Niki semakin takut.
“tidak. Hanya ingin mengingatkanmu saja.”
Niki mendengus pelan.
‘dia pikir dia itu siapa? Beraninya mengancamku!’ batin Niki saat Justin sudah hilang diujung koridor.
Niki
pun membalik kan tubuhnya ingin memasuki perpustakaan. Saat akan
menggerakan tangannya menyentuh kenop pintu, seseorang menyentuh
pundaknya. Ia memutar tubuhnya kembali.
“ju..stin?” ucapnya tergagap.
Justin menatapnya sinis. “it's me. Kenapa? Terkejut?”
“kenapa kau bisa disini, bukannya kau tadi sudah turun?”
“aku kembali naik. Saat mendengar suara pikiranmu itu.”
Niki
merasa semakin takut saat mata hazel Justin berubah menjadi warna
kuning seperti mata kucing. “ka...au itu sebenarnya siapa?”
Justin tersenyum, memperlihatkan gigi taringnya yang panjang. "menurutmu?"
“vam..ampire?”
Justin tertawa. “bingo Miss Chance!”
Niki menggeleng. “tidak mungkin!”
“kenapa tidak mungkin? Apa kau pikir taringku ini palsu, hm?”
Niki tutup mulut.
Justin
menyibakkan rambut coklat panjang Niki yang menutupi leher perempuan
itu. Ia pun mendekatkan wajahnya ketelinga Niki. “kau pasti ingin
mencoba gigiku ini.” bisiknya.
Niki bergidig saat hembusan nafas Justin mengenai kulitnya.
Ia merasakan sesuatu yang tajam menembus kulitnya. Sakit!
“AAAAARRGGHH!” pekik Niki.
Niki
membuka mata. Ia mendapati dirinya berada suatu ruangan. Bukan
kamarnya, Seperti ruang kesehatan kampus. Niki segera memegang lehernya.
Tidak ada apapun.
Ia pun bangkit lalu berjalan
menuju sebuah kaca yang ada diruangan itu. Ia memperhatikan lehernya
melalui cermin. Benar-benar tidak ada bekas apapun.
“jadi itu mimpi? Tapi kenapa terasa begitu nyata?” gumam Niki.
Pintu ruang kesehatan terbuka. Masuklah Miley dan Selena dengan wajah cemas.
“baguslah kau sadar.” ucap Selena.
“me...mangnya aku kenapa?” tanya Niki.
“kau ditemukan pingsang di lorong perpustakaan.” jelas Miley. “apa kau sakit? Wajahmu tak terlihat pucat.”
Niki bergumam. Ia saja tak tahu apa yang terjadi padanya. “aku tidak sakit.”
“lalu kenapa kau bisa pingsan di sana?”
“aku....”
Niki hampir saja mengatakan kalau dia bertemu Justin disana. Dia kembali teringat kata-kata Justin yang terdengar mengancam itu.
“kau?” Miley dan Selena menunggu penjelasannya.
“aku belum sarapan. Jadi, mungkin itu penyebab aku pingsan.” ujar Niki.
“tidak biasanya kau belum sarapan. Bukannya setiap hari kau harus sarapan bersama kakakmu itu?” tanya Miley.
Memang! “hari ini tidak karena GC keluar kota.” ucap Niki asal. “oh ya, memangnya siapa yang menemukanku?”
“Justin!” ucap Miley dan Selena bersamaan.
“dia juga yang membawamu kesini.”
“aku tak menyangka, ternyata dia orang yang baik......”
Niki
merasa jantungnya berhenti berdetak saat nama Justin disebut. Laki-laki
itu yang menemukannya? Apa maksud nya? Apa mimpi itu nyata?
The Half Blood Vampire 3
Sesekali Niki tertawa mendengar lelucon yang dilontarkan Selena.
Saat itu, mereka sedang berjalan menuju parkiran kampus karena mereka sudah tak punya jadwal kuliah.
Tiba-tiba
saja Niki melihat sosok Justin sedang berjalan berlawanan arah
dengannya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Semenjak beberapa hari yang
lalu -saat ia pingsan-, ia tak pernah berbicara dengan Justin. Bahkan
tidak untuk mengucapkan terima kasih sekalipun. Ia selalu berusaha tidak
melakukan kontak mata dengan Justin, karena mimpinya itu terus
menghantui pikirannya. Mimpi yang terasa sangat nyata.
"hai, Just!" sapa Miley.
Justin tersenyum.
Niki tertegun. Justin tersenyum pada Miley?
'apa maksudnya tersenyum pada Miley? Pada saat aku menyapa, dia malah mengancamku. Dia memang pria aneh!' gerutu Niki.
"ehem, Nicola."
Mereka bertiga berhenti melangkah, lalu memutar tubuh menatap Justin. Wajah mereka terlihat bingung, terutama Niki.
"ya?" tanya Niki takut-takut.
"jadi begitu caramu mengucapkan terima kasih pada orang yang sudah membantumu?" tanya Justin seraya mengangkat sebelah alisnya.
Kening Niki berkerut samar. "apa maksudmu?"
"astaga Nicola..."
"Niki." potong Niki. Ia tak begitu suka di panggil Nicola.
"oh, Niki. Aku sudah menolongmu, tapi kau malah mengatakanku pria aneh. Dimana pikiranmu?"
Niki menelan ludahnya sendiri.
Miley dan Selena menatap Niki tak mengerti.
Justin bisa membaca pikirannya, sangat persis seperti yang ada dalam mimpinya.
'kau membaca pikiranku?' Niki mengetes Justin.
"kenapa kau diam?" tanya Justin.
Niki menggeleng. "aku....maaf. Aku tak bermaksud mengatakanmu aneh." Niki menarik nafas. "terima kasih karena sudah menolongku."
Justin mengangkat bahu. "sama-sama."
Mereka kembali melanjutkan langkah. Namun Niki merasa, kalau Justin benar-benar bisa membaca pikirannya.
'berbaliklah jika kau mendengarku.' Niki membatin.
Dalam hati ia berharap, agar Justin tidak berbalik. Ia pun berhenti berjalan, lalu menoleh kebelakang.
Deg!
Justin sedang menatapnya. Sungguh, matanya sangat tajam menusuk. Ia
tersenyum. Namun senyum itu hanya dibibir, membuat bulu kuduknya
berdiri.
"kenapa kau berhenti?" tanya Selena.
Niki
kembali menatap sahabatnya yang sudah keduluan beberapa langkah.
"aku...." ucapannya terputus saat ia sudah tak melihat Justin. Kemana
laki-laki itu?
"kau mencari siapa?" tanya Miley bingung.
Dengan kaku, Niki menggeleng. "bukan siapa-siapa."
Sambil
mengeringkan rambutnya dengan handuk, Niki berjalan menuju meja
riasnya. Saat tiba disana, ia meletakkan handuknya dikursi, lalu mulai
menyisir rambutnya.
Ketika tengah menyisir,
matanya menangkap bayangan seseorang didalam kacanya. Seseorang yang
belakangan ini mulai dihindarinya. Justin.
Justin
tersenyum padanya, sembari memperlihatkan taringnya yang panjang. Dalam
satu detik ia sudah tiba didekat Niki. Langsung saja ia mendekatkan
wajahnya keleher perempuan itu, bermaksud mengisap darahnya hingga habis
tak tersisa.
"AAAAARRGGHH!!" Niki berteriak
sekencang mungkin, lalu mengibaskan tangannya sehingga mengenai kepala
Justin. Niki langsung berjongkok dan membenamkan wajahnya pada lutut.
Seseorang menyentuh pundaknya, membuat air matanya langsung mengalir.
"jangan bunuh aku!" pinta Niki terisak.
"hei, Ana. Ini aku, GC. Mana mungkin aku membunuhmu." ujar GC.
Niki
mengangkat kepalanya, lalu menatap GC dengan wajah penuh air mata.
Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung menghambur dalam pelukan GC. "GC,
aku takut..hiks.."
"tak usah takut. Aku ada disini oke?"
Niki mengangguk dan semakin mempererat pelukannya. "malam ini, aku ingin tidur denganmu."
"kenapa?"
Niki kembali menangis.
"oke.
Kau boleh tidur denganku, meskipun aku tak tahu apa yang sedang kau
alami." GC mengelus rambut panjang coklat milik Niki, agar perempuan itu
tenang.
THBV 4
Nicole
mengeratkan pelukannya pada Greyson saat pria itu sedikit bergerak. Ia
benar-benar takut, menyebabkan ia tak tidur semalaman. Saat matanya
hampir terpejam, Greyson bergerak sedikit dan membuatnya kembali bangun.
Greyson
membuka matanya perlahan. Ia mendapati Nicole tengah tertidur dalam
pelukannya. Tidurnya tadi malam benar-benar tidak nyenyak. Saat ia
bergerak sedikit, Nicole langsung memeluknya. Bukannya puas istirahat,
tubuhnya malah bertambah pegal.
Ia pun menggeser
pelan tubuh Nicole, karena ia ingin segera mandi untuk pergi ke kantor.
Baru saja ia mengangkat tangan kanan Nicole yang melingkar diatas
perutnya, perempuan itu sudah mengerang pelan dan kembali merapatkan
pelukannya.
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam
pikirannya. Nicole tak pernah seperti ini. Kecuali saat itu. Saat Nicole
masih duduk dibangku jhs. Ia mengalami mimpi buruk. Selama seminggu,
Nicole tidur dikamarnya persis seperti sekarang ini.
“jangan tinggalkan aku.” ujar Nicole.
“kau sudah bangun?”
Nicole mengangguk dalam pelukannya.
“tapi aku harus bekerja. Kau juga harus kuliah.”
“aku tidak mau kuliah.”
“kenapa?”
Nicole menggeleng.
Greyson mendorong Nicole, agar dia bisa melihat wajah adiknya itu. “kau tidak tidur semalaman?”
Lagi-lagi Nicole menggeleng. “aku tidak bisa tidur. Ku mohon, kau jangan bekerja ya.”
Greyson mendesah. “aku harus bekerja, sweety.” Ujarnya sambil mencium puncak kepala Nicole.
“pokoknya kau tidak boleh bekerja!” bentak Nicole dengan mata berkaca-kaca.
Greyson mendesah. “baiklah. Aku tidak akan bekerja, dan kau tidak akan kuliah. Bagaimana?”
Wajah Nicole berubah cerah. Ia mengangguk senang. “setuju.”
“sekarang kau tidur. Kalau kau tidak tidur, aku akan pergi ke kantor.” ancam Greyson.
Nicole mengangguk lalu mulai memejamkan matanya.
Ia
-Greyson- memang tidak bisa menolak permintaan adik satu-satunya itu.
Ia terlalu sayang, sehingga ia memanjakan Nicole. Apapun keinginan
Nicole, ia pasti akan berusaha mengabulkannya. Bahkan orangtua mereka
pun tak memanjakan Nicole seperti yang ia lakukan.
Saat
Nicole sudah mulai terlelap, Greyson melepaskan diri dari pelukan
Nicole untuk mengambil ponselnya. Ia menghubungi sekretarisnya, bahwa ia
tak bisa datang. Untunglah hari itu tak ada meeting.
Baru saja memasuki alam mimpi, Greyson sudah dibangunkan kembali oleh ketukan pada pintu kamarnya.
“masuklah.” ucapnya.
Pintu pun terbuka. Masuklah Mr. Dan Mrs. Chance yang merupakan ayah dan ibunya.
“Nicole?” tanya Mrs. Chance tak percaya.
Greyson mengangkat bahu. “aku tidak tahu. Tadi malam dia berteriak histeris, lalu meminta untuk tidur denganku.”
“mimpi buruk?” kali ini Mr. Chance yang bertanya.
“tidak
Dad. Setahuku dia baru selesai mandi.” jelas Greyson. “dia baru tidur,
15 menit yang lalu. Semalaman ia tak tidur.” ujar Greyson saat Mrs.
Chance akan mencium Nicole.
“baiklah.” Mrs. Chance mengurungkan niatnya.
“jadi, karena ini kau tidak masuk ke kantor?”
Greyson mengangguk.
“kau
tahu, aku sudah mempercayakan sebuah perusahaan padamu. Tapi kenapa kau
lalai? Harusnya kau berada di kantor, bukannya menjaga Nicole yang
sedang tidur.”
“tapi, dia memintaku untuk tidak kekantor. Dan dia juga tak mau kuliah. Aku khawatir, dad.”
“kau
memenuhi permintaannya konyolnya itu?” tanya Mr. Chance tak percaya.
“oh Tuhan. Grey, itu Nicole sudah besar. Kenapa kau masih saja
memanjakannya? Kau sudah seperti ayahnya saja.” gerutu Mr. Chance.
“adikku......”
“kan
hanya Nicole.” sambung Mrs. Chance. “selalu itu yang kau ucapkan.
Lihatlah, lama-lama dia memintamu untuk menjadi pembantu pribadinya.”
sungut Mrs. Chance.
Greyson hanya bisa tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
“sepertinya,
kau juga kurang tidur.” ucap Mr. Chance. “tidurlah. Saat makan siang
nanti, aku sudah melihat kalian berdua di ruang makan.”
Greyson mengangguk. Dan orangtuanya pun keluar dari kamarnya.
The Half Blood Vampire 5
oleh d'Bezt JD Author pada 6 Januari 2012 pukul 19:18 ·
Nicole
merentangkan tubuhnya, lalu menguap lebar. Perlahan, ia membuka
matanya. Ia mendapati dirinya, tertidur di atas ranjang Greyson.
“siang sweety!” Greyson mencium keningnya lembut.
Nicole menatap Greyson yang tengah bersandar pada sandaran kasur. “jam berapa?” tanya Nicole parau.
“masih jam 1 siang lewat sedikit.” jawab Greyson santai.
“apa? Kenapa kau tak membangungkanku?!”
“tidurmu itu nyenyak sekali. Aku tak mungkin membangunkanmu.”
“lalu, kau belum mandi?”
Greyson menggeleng.
“apa? GC, kau ini kenapa? Membangunkanku tidak, mandi pun tidak. Lalu apa yang kau lakukan?”
“menemanimu.” jawab Greyson. “kau sendiri yang memintaku agar tidak kemana-mana.”
Nicole berpikir sejenak. Benar juga.
“Nicole, jawab aku. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Greyson serius.
Nicole menjadi gugup karena ditatap seperti itu. “ti..tidak ada apa-apa.”
Greyson memperdalam tatapannya. “jangan berbohong Nic. Aku tak suka, dan kau tahu itu.”
Nicole menelan ludahnya sendiri. “tentu saja aku tahu. Aku tak mungkin berbohong.” Nicole meyakinkan Greyson.
“lalu apa maksud mimpimu? Tadi kau mengigau. Nicole, please. Cerita padaku.”
“me...ngi..gau?”
“kau menyebut-nyebut ... Vampire.” saat Greyson mengucapkan kata terakhirnya, suaranya memelan.
“mungkin itu efek karena aku menonton film vampire, siang kemarin.”
Greyson terus menatap Nicole. Ia tahu adiknya itu sedang berbohong. “ya sudah.”
Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar. Suara Mr dan Mrs Chance.
“mom sudah pulang?” tanya Nicole.
Greyson mengangguk. “mereka tiba tadi pagi. Tak lama setelah kau tidur.”
Nicole menggigit bibir bawahnya. “apa mereka marah karena kau tidak ke kantor?”
“tidak. Mereka hanya sedikit kesal karena kau tidak kulah.” sahut Greyson. Berbohong.
“kau berbohong.”
Greyson mengacak poni Nicole. “ayo kita keluar. Kita belum makan dari pagi, ingat?”
“lalu bagaimana dengan Mom dan Dad?” tanya Nicole takut.
Greyson tersenyum. Ia pun menarik Nicole keluar kamar.
Nicole
berjalan dibelakang Greyson karena takut melihat wajah Mr dan Mrs.
Chance, orangtuanya. Greyson menarik pelan tangan Nicole, agar adiknya
itu berjalan disampingnya. Mereka pun duduk berdampingan.
“maaf kami sedikit lama.” ujar Greyson.
Mr. Chance melirik Nicole yang menunduk.
Sadar di perhatikan, Nicole mengangkat kepalanya. Matanya langsung bertemu dengan Mr. Chance. “maaf Dad. Kami terlambat.”
Mr. Chance tersenyum. “tak apa. Ayo, saatnya makan.”
Nicole
bersyukur, karena Mr. Chance tidak menceramahinya sebelum makan.
Biasanya, jika ia bolos, atau menyuruh GC bolos, atau melakukan keduanya
sekaligus, ia pasti akan di omeli hingga perutnya kenyang, dan akhirnya
ia tak jadi makan.
“Nicole, kau sudah besar. Kau
pasti sudah tau apa salahmu. jadi, aku tak perlu mengingatkanmu tentang
kesalahanmu itu.” ucapan Mr. Chance membuyarkan lamunannya.
“yeah
Dad. Aku tahu, dan aku tak akan mengulanginya.” ucap Nicole. “tapi, aku
benar-benar takut. Bahkan aku tidak tidur semalaman. Dan, kalau boleh,
nanti malam aku tidur bersama GC lagi.”
Mrs. Chance terkikik. “astaga, nak. Apa yang kau takutkan? Kau pasti habis menonton film horor lagi. Ya kan?”
Nicole terpaksa mengangguk.
Ia
tak mungkin mengatakan pada keluarganya, kalau di kelasnya, ada
seseorang bernama Justin Drew Bieber. Laki-laki itu sangat misterius,
dingin, acuh. Kenyataan yang membuatnya semakin bergidik, Justin adalah
seorang vampire. Laki-laki itu selalu menghantuinya belakangan ini sejak
mereka bertemu di lorong menuju perpustakaan.
Kalaupun
ia mengatakannya, apa keluarganya akan percaya? Mereka pasti berpikir
kalau dia sudah gila. Dan tentu saja, ia punya resiko yang besar jika ia
berani mengatakan semua itu. Sungguh, ia masih menyayangi nyawanya.
“iya,
kau boleh tidur denganku. Tapi jangan memelukku terlalu erat, kau
membuatku tidak bisa bergerak, dan susah bernafas.” Greyson mengajukan
syarat.
Setelah membasuh wajahnya, Nicole keluar
dari kamar mandi, lalu berjalan menuju meja rias. Perlahan, ia menatap
bayangan dirinya pada cermin.
Tidak ada siapapun,
hanya dia. Benar. Hanya ada Nicole Chance disana. Mungkin, yang tadi
malam hanya halusinasinya saja, karena terlalu takut pada Justin.
“hanya halusinasi.” Nicole meyakinkan dirinya sendiri.
Tanpa
mengalihkan pandangannya, ia mengambil bedak. Namun ia merasa
pergelangan tangannya di genggam seseorang. Tangan orang itu terasa
sedingin es. Saat menatap pergelangan tangannya, tidak ada siapapun,
tapi genggaman itu masih terasa.
Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.
“ku mohon, jangan ganggu aku.” lirih Nicole.
Genggaman
tangan itu mengendur. Secepat kilat, Nicole berlari menuju pintu
kamarnya, namun terkunci. Padahal ia tak menguncinya sama sekali.
Sebuah sentakan kasar, membuat Nicole barbalik. Namun tetap saja orang itu tak terlihat. Ia mulai menangis.
“jangan ganggu aku.” isak Nicole.
“aku tidak mengganggumu, sayang. Aku hanya ingin menikmati darahmu.” ujar suara itu.
Nicole merasa lehernya ditusuk dua benda tajam. Perih.
“AAAAARRRGGGHH!!”
ada blognya ya tentang ceritanya :)
BalasHapusaq suka ceritanya loe ^^ "i'd love it"
baru bikin hehehe
Hapus